Selain batik, Indonesia memiliki banyak jenis kain yang bisa menjadi harta budaya nasional. Salah satunya adalah kain lurik yang berasal dari Yogyakarta. Tenun tradisional ini telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno dan dulu hanya digunakan oleh para abdi dalem keraton.

Lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa kuno, yaitu kata lorek yang artinya lajur atau garis. Karena itulah, nggak perlu heran kalau melihat lurik memang memiliki motif garis. Sayangnya, kain lurik saat ini tengah terancam kepunahan dan karena itulah Adinindyah dan rekan-rekannya di Lawe Indonesia berusaha untuk membuat lurik tetap menjadi primadona dengan mengaplikasikannya ke berbagai benda-benda dengan cara yang kreatif.

Lawe bermula dari rasa gemas Adinindyah yang merasa tenun Indonesia tidak mampu berkembang. Menurutnya, kekayaan tenun Indonesia masih bisa dikembangkan lagi supaya konsumen tertarik sehingga memperpanjang umur kain tenun karena banyak peminatnya. Karena itulah, Adinindyah mendirikan Perhimpunan Lawe sejak akhir 2014.

Lawe sejatinya sudah berdiri jauh sebelum 2014 sebelum perhimpunan dibentuk. Saat Adinindyah berkunjung ke beberapa daerah di pelosok negeri, ia terpukau dengan warna dan ragam kain tenun Indonesia. Dengan modal patungan Rp3 juta, Adinindyah mengalokasikannya untuk membeli kain dan bereksperimen untuk mengolahnya, seperti pewarnaan motif dan kerja sama dengan para penjahit.

Meski di awal bisnisnya tidak tidak berjalan mulus seperti perkiraannya, kini Lawe telah memiliki pasar, akibat sudah makin terkenalnya kain dari Indonesia. Selain pasar nasional, Lawe berekspansi ke Jepang, Amerika Serikat, Belgia, dan Australia. Omzet yang diraih kini telah mencapai Rp2 miliar per tahun yang ia gunakan untuk operasional dan stok bahan baku.

Lewat Lawe, kain lurik yang sangat sederhana berubah menjadi berbagai bentuk aksesoris dan pernak-pernik cantik, seperti sepatu, tas, hingga stagen. Adinindyah mengungkap bahwa Lawe Indonesia adalah social enterprise berbasis budaya yang memfokuskan diri pada konservasi tradisi lurik, juga memberdayakan perempuan Yogya agar mereka bisa mandiri secara ekonomi dengan menjadi pengerajin di Lawe. Hal ini sejalan dengan cita-cita yang dimiliki oleh Lawe Indonesia, yaitu “Conserving Tradition, Empowering Woman.”