Seorang teman @krismoerwanto mengirim salam melalui time line ke saya tentang “jaman gaduh”. Saya menjadi tertarik untuk menanggapi dengan tulisan santai ini :))

Menurut saya audience Indonesia termasuk yang paling “gaduh” di dunia. Trending topic, pengguna social media yang besar dan juga pengguna yang sangat aktif.

Menjadi pertanyaan besar, apakah ke”gaduh”an itu disertai dengan tingkat produktivitas yang tinggi? Atau jangan-jangan hanya asal “gaduh”? Lalu apa makna “gaduh” itu sebenarnya? Positif atau negatif? Potensi atau sebuah kesia-sian?

MERUBAH GADUH MENJADI TUMBUH DAN BISA DIUNDUH

Berpikir keras untuk meleverage ke”gaduh”an menjadi potensi pasar yang luar biasa. @Airbnb @womenvoicenow.org @ItGetsBetter.org dan masih banyak lagi adalah bentuk konten yang kekuatan dan pertumbuhannya berawal dari ke”gaduh”an itu.

Asal “gaduh” sangat sayang jika tak ada rumah atau platform atau komunitas yang menaunginya sehingga SUSTAINABLE.

Ke”gaduh”an adalah modal untuk menjadi leading brand. Nah jika kita tak mampu membuat ke”gaduh”an sebagai potensi atau aset nasional, kita akan tetap menjadi bangsa konsumen. Bagaimana China yang bisa menjadi tuan rumah dengan memanfaatkan ke”gaduh”an yang sangat besar. Adalah sebuah kerugian besar jika kita tak mampu meleverage ke”gaduh”an bukan?

NEW NEWS IS A GOOD NEWS

Selama kita sebagai influencers dan audiences masih beranggapan Bad News is a Good News, kita akan berkutat pada ke”gaduh”an yang hanya sia-sia. Leverage, accelerate dan quick win adalah target realists yang harus dicapai oleo komunitas atau society. Konten yang posit if dan produktif harus dikembangkan oleo siapapun jikalau tak mau dikatakan kita bangsa yang bebal dan berputar di tempat. Waktu yang akan membuktikan apakah kita bangsa yang penuh inisiatif atau bangsa yang penuh kesia-siaan.