Beberapa tahun belakangan ini saya memperhatikan tren yang mungkin tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Sejak buku No Logo yang ditulis Naomi Klein keluar diawal tahun 2000-an, seperti muncul aura perjuangan di dalam brand-brand yang muncul. Dari Benetton, Bodyshop, Honest Tea, ECKO, SeventhGen hingga TOMS.

Seth Goldman, si pemilik Honest Tea bilang :

The challenge, as I see it, is not, “How do you sell products?” It’s “How do you communicate your beliefs to people and make them into believers?” You want everybody who interacts with your brand to be excited about it.

Menarik untuk diamati tren membangun brand dengan semangat MOVEMENT. Bukan lagi toko online penjual barang craft tapi sebuah ETSY MOVEMENT. Bukan lagi penjaja sepatu tapi usaha meningkatkan kualitas hidup anak-anak dari TOM’S SHOES.  Brand saat ini harus ikut memecahkan masalah sosial yang ada di masyarakat. Brand kini harus memiliki sense of urgency sehingga relevan dengan kehidupan dan krisis yang ada di planet ini.

Kenapa brand harus menjadi AKTIVIS? Ya, karena kita harus membangun relevansi yang akhirnya mampu menggerakkan komunitas yang mungkin menjadi ‘believers’ dari MOVEMENT itu. Beberapa hal yang urgent untuk menjadi AKTIVIS bagi brand adalah :

  1. Berpegang pada CORE MISSION. Walaupun harus tumbuh secara organik, namun memiliki misi yang jelas sangatlah penting bagi brand. Misalnya komitmen terhadap alam/planet yang sudah dicanangkan dari awal. Komitmen bukanlah kosmetik atau seremonial belaka.
  2. Empowering Sumber Daya Manusia. Value yang sudah dimiliki dari Core Mission adalah sebuah platform yang secara organik dikembangkan dalam sistem internal yang dinamis dan kuat.
  3. Melakukan Guerilla Marketing yang cerdas. Spirit aktivis tentu akan pas jika kita menggunakan pendekatan yang sifatnya tidak konvensional. Memilih pendekatan yang progresif tentu lebih tepat. Gaya bergerilya adalah sifat dan karakter brand-brand saat ini.
  4. Low Budget High Impact Marketing. Pendekatan ini akrab sekali dengan marketing berbiaya rendah. Brand-brand lokal dan kecil yang potensial bisa memakai cara ini untuk melejit. Siapkan skenario dan lakukanlah dengan keyakinan yang tinggi. Cara yang melibatkan adalah cara yang asyik untuk dicoba.

Sebenarnya jika brand sebagai AKTIVIS bisa dilakukan akan banyak sekali keuntungan yang didapat; dari terbangunnya loyalitas konsumen hingga terciptanya platform yang sustain bagi brand yang kita bangun dari hati.  Yuk… DOINC IT TOGETHER!

 

Comments

  1. Anita Roddick founder Bodyshop memeiliki intuisi tajam atas sosio-cultural produk. Aktivis+entreprenur ini berhasil menggabungkan keduanya. Dan pengelolanya terlepas dari CSR.

    Hal ini..sangatlah keren.karena memang bodyshop mempunyai value yang sudah mengakar, jadi tanpa CSR (yang notebene anjuran pemerintah), Bodyshop-pun dengan sigap melanglang buana :)

  2. novpras says:

    Brand menjadi aktivis sudah menjadi sebuah kebutuhan didasarkan masy saat ini lebih cenderung ke sosial movement,masy lebih cerdas untuk memilih tidak didasrkan iklan. Salah satu contoh mungkin beberapa penyanyi menjual cd nya dengan disatukan sebuah donasi untuk anak anak dengan kanker so semakin kesini brand hrus semakin kreatif