Siapa yang nggak kenal Makaroni Ngehe? Siapa sangka founder makaroni yang nge-hits di ranah percamilan ini  dulu sempat mengalami fase hidup yang nggak seenak makaroninya. Ali Muharam sempat bekerja sebagai Office Boy, pedagang makanan, penjaga toko baju, dan harus rela kelaparan juga dibodoh-bodohi banyak orang sebelum akhirnya sukses mengembangkan bisnis makaroninya. Fase hidupnya yang tidak beruntung jugalah yang menjadi inspirasi dari penamaan Makaroni Ngehe.

Awal mula Makaroni Ngehe bisa berjalan adalah dari kenekatan Ali untuk meminjam Rp20 juta kepada temannya demi bisa meluncurkan usaha kuliner ini. Dengan modal yang didapatkannya, ia menyewa toko kecil seluas 2×3,5 meter yang menjadi outlet pertama Makaroni Ngehe di Kebon Jeruk.

Makaroni Ngehe-pun ia jalankan sendiri, termasuk keperluan untuk memasak, belanja, dekorasi hingga konsep tokonya. Karena melakukan semuanya sendiri inilah, ia menemukan banyak hambatan terutama saat bahan makaroni habis. Ia terpaksa harus menutup toko untuk menjemput makaroni mentah yang dipesan dari Tasikmalaya. Tak hanya menjemput, Ali juga menyewa angkot dan mengangkut semua barangnya sendiri hingga sampai ke outlet pertamanya. Keadaan yang serba terbatas-pun membuat Ali harus tidur di outlet-nya bersama kompor dan peralatan masak lainnya. Hal ini dilakukan agar modal Rp20 juta tersebut efisien dan mengurangi pengeluaran yang bisa digunakan untuk mencicil modal kepada kawannya tersebut.

Lewat fase-fase yang tidak mungkin ia lupakan, Ali belajar banyak hal terutama ketekunan dan kegigihan dalam menjalankan usaha.

Kini Makaroni Ngehe telah merambah banyak tempat, di antaranya  Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, hingga Yogyakarta dan mampu menghabiskan makaroni 30 ton per bulan juga mempekerjakan 400 orang. Omzetnya tidak main-main, dalam sebulan Ali bisa mendapatkan Rp3-5 Miliar!

Kini Ali dan Makaroni Ngehe tengah melakukan ekspansi ke mal atau pusat perbelanjaan di Jakarta dan Yogyakarta dengan nama Makaroni Ngehe Premium.