Seringkali kita bertanya-tanya, apa yang lebih dulu dinaikkan saat melakukan branding produk? Produk itu sendiri atau nilainya?

Jawabannya, bukan keduanya.

Karena branding dimulai dari pikiran konsumen, itulah yang menentukan hidup dan matinya suatu produk. Kita harus bercermin pada diri sendiri dan berpikir seolah-olah diri kita adalah konsumen: Apakah kita yang menemukan sebuah kategori? Apakah kita pionir di kategori ini? Atau apakah kita menempati posisi 2 dalam kategori ini atau malah ‘hanya’ salah satu diantara banyak produk di kategori ini?

Penting dicatat bahwa kebanyakan brand yang sukses adalah  yang menemukan kategori baru atau yang bisa mengubah sistem lama menjadi lebih efisien, menguatkan brand mereka dalam pikiran konsumen dan mendominasi kategorinya. Seperti Google yang erat dengan mesin pencari efektif yang merebut pasarnya dari Yahoo.

 

Lalu bagaimana jika kita terlambat untuk menjadi pionir di pasar dan bagaimana jika sudah ada dua brand yang kuat di kategori yang kita geluti?

Ada dua pilihan yang bisa diambil:

1. Membuat kategori baru dimana kita bisa jadi pionirnya. Produk boleh sama tapi bagaimana kita memasarkannya. Misalnya bila berjualan sayur mayur organik, bisa ditambahan embel-embel “Earth’s Best” dan lainnya.

2. Pertajam fokus. Sebagai contoh brand mobil Subaru mempertajam fokusnya menjadi “four-wheel drive” dan menjadi brand mobil tersukses di pasar AS, bahkan melampaui Vokswagen dengan presentase 40% di tahun 2015.

 

Punya pengalaman melakukan branding?