Apa jadinya apabila suatu filosofi dan teori diaplikasikan pada desain sepatu? Hasilnya adalah Brodo Footwear. Berawal dari dua mahasiswa teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu Muhammad Yukka Harlanda (yukka) dan Putera Dwi Karunia.

Lulusan teknik sipil jualan sepatu? Sekilas mungkin tidak ada sangkut pautnya. Nyatanya, pengetahuan dan keahlian teknik yang dipelajari Yukka menjadi modal berharga dalam pengembangan desain sepatu merek Brodo Footwear yang dirintisnya sejak tahun 2010. Desain Brodo banyak terinspirasi dari keindahan struktur bangunan yang digabungkan dengan sedikit teori fisika modern.

brodo 2

Awal mula dirinya terjun di dunia bisnis sepatu, Yukka dan Putera iseng-iseng mencari referensi sepatu di internet dan menuangkannya dalam gambar. Hasil gambar tersebut lalu dibawa kepada perajin sepatu di Kota Kembang tersebut. Senang karena memakai sepatu hasil desain sendiri, pada Juni 2010 keduanya ini mencoba memasarkan sampel produknya lewat internet, sosial media, dan forum diskusi online. Nama “Brodo” dipilih karena alasan mudah didengar.

Dalam branding keduanya tidak ingin mengesankan terlalu serius. Bahasa dalam pemasaran juga disesuaikan dengan target utama pasar yang berusia 19-28 tahun. Usaha lewat internet pun berbuah manis. Selain pemesanan perorangan, beberapa pemilik distro Bandung ingin memajang Brodo di outlet mereka. Yukka dan Putera mulai serius menginvestasikan uang untuk pengembangan bisnis Brodo Footwear. Permintaan pun semakin meluas diluar Bandung seperti Jakarta dan Surabaya. Awal 2011, Brodo membuka store sendiri di Jakarta.

brodo 3

Dengan latar belakang teknik sipil, Yukka mengaplikasikan ilmu teknik dan struktur bangunan terhadap sepatu yang diproduksi. Contohnya, salah satu koleksi produk Brodo dinamai Ponte terinspirasi dari jembatan Steel Truss Forth di Skotlandia, Signore diilhami keindahan struktur di Jepang, dan II Cervo memiliki pola jahitan yang terinspirasi dari piramida Suku Aztec di Meksiko.

Bermula dari iseng, bisnis yang dirintis Yukka dan Putera meraup omzet sekitar Rp. 200 juta – 300 juta per bulan. Sejumlah distributor Jepang dan Eropa tertarik bekerja sama dengan Brodo yang nantinya badan usaha tersebut dinamakan PT. Harlanda Putera Indonesia.