Era chaotic atau disruptive saat ini melahirkan insan-insan muda yang sangat kreatif dibelahan dunia manapun juga termasuk di Indonesia tentunya. Wajah-wajah baru yang mengejutkan; dengan penampilan penuh surprise: fashionable, casual dan unik. Figur-figur seperti Maria Popova @hmason atau Neri Oxman adalah contoh-contohnya. Dan bintang pembicara hari ketiga C2-MTL ini selain Sir Richard Branson adalah Hilary Mason. Berbicara tentang data yang biasanya boring, ternyata Hilary sharing sesuatu yang membukakan mata.

Hilary menjadi kondang karena berhasil memperpendek data (URL Shortening Service melalui twitter). Melalui Hilary dengan bitlynya imajinasi saya seperti jauh membayangkan betapa besarnya peran data dimasa-masa sekarang dan masa datang. Bayangkan berawal dari data yang terkumpul melalui pengguna bitly begitu banyak peluang yang bisa dilakukan untuk publik.

Bit.ly_LogoAvant-Garde Data Scientist itulah sebutan buat Hilary Mason. Berhasil menghubungkan dua titik yang jauh; satu titik adalah data information sedangkan titik yang lain adalah “social science”.  Menarik! Bahwa HUGE CONVERSATION menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika diolah dengan baik. Valueble data menjadi sesuatu yang sexy. Isi data yang begitu jelas ketika sudah dipegang bisa menjadi sesuatu yang berharga (baca : monetizing). Karena dari social media terutama twitter tertangkap jutaan data atau pembicaraan yang bisa diolah.

Bisa dibayangkan begitu banyak peluang untuk memanfaatkan data secara positif dan bisa dimonetizing. Bahkan data-data yang bertebaran bisa dimanfaatkan secara REAL-TIME. Disinilah pentingnya data science bertemu dengan CREATIVITY; data yang hanya sekedar data bertemu dengan social science; big data bertemu dengan global consiousnes secara real time.

Kesadaran untuk bisa membaca pikiran konsumen serta problem publik bisa menghasilkan servis yang relevan dan membukakan mata karena solutif sifatnya. Contoh bitly adalah salah satunya.

Bagi saya figur seperti Hilary Mason adalah tanda bahwa saat ini adalah jamannya CREATIVITY + COMMERCE. Bahwa big data bisa menjadi satu pekerjaan yang menggairahkan dan sangat menyenangkan.

HILARY DAN RICHARD BRANSON

Jaman chaotic ini menarik dan saya setuju dengan pandangan majalah Fast Company, bahwa bukan lagi jaman Gen X atau Gen Y atau Gen yang lainnya. Jaman ini adalah GEN-FLUX. Ketika figur-figur kreatif mampu bergerak secara passionate pada bidang yang ditekuninya dan mampu membangun network dengan cara kolaborasi, co-creation, co-design dialah GEN-FLUX.

GEN-FLUX tak mengenal usia, Richard Branson, Francis Coppola atau Philippe Starck adalah pelopor. Keterbukaan dan sensitifitas Hilary pada masalah sosial dan insight memiliki kemiripan dengan Richard Branson bagi saya. Ada benang merah yang saya tangkap jelas, bahwa CREATIVITY menjadi mutlak ketika melakukan bisnis. Dunia bisnis akan menjadi menarik ketika ada CREATIVITY. Dunia bisnis lebih menguntungkan ketika ada CREATIVITY. Dan dunia bisnis akan lebih sustain ketika ada CREATIVITY.

 

Comments

  1. Big Data: Ancaman atau Peluang?

    Ketika culture of production dan currency of sharing makin marak di tengah fenomena ‘everybody becomes media’ dan pengaruh Peer kian Powerful, maka yang sedang dan akan lebih terjadi ke depan adalah banjir data/informasi. Terjadi ledakan jumlah data dan informasi. Dan manusia tak lagi sanggup mengunyah dan menganalisis data yang menggerojog dan berhamburan darimana saja. Terjadilah yang disebut Information Overload. Fenomena ketidaksanggupana manusia mengelola data dibanding banjir data/informasi yang alirannya tak pernah berhenti .

    Terkait fenomena Big Data dan Information Overload, yang perlu diwaspadai kelak adalah: ‘Data’ bukan membantu memperjelas masalah, justru banjir data menimbulkan kebingungan menentukan sikap/pilihan, kekusutan analisis, dan kesalahan penggunaan data basi (yang tak disadari), sehingga mengakibatkan kesimpulan yang diambil menjadi tak relevan dengan situasi terkini.

    Pertanda ‘bencana” itu sudah terjadi. Terjadi kontradiksi tuntutan/ekspektasi konsumen. Di satu sisi, mereka mengharapkan jaminan ‘kebaruan’, aliran data/informasi segar. Kebutuhan untuk sesering mungkin meng-update informasi terkini. Tapi di sisi lain, akibat guyuan data/informasi yang makin menggelamkan fokus konsumen, mereka menuntut dibantu dipilah dan dipilihkan, hanya informasi/data yang relevan bagi minat atau kepentingan mereka.

    Bagi yang memahami situasi, fenomena Big Data tak dibaca sebagai bencana “banjir data/informasi”. Melainkan peluang, karena terjadinya kegagalan menyortir yang membanjir. Kegamangan memilah substansi yang dibawa bah. Dan ketidakmampuan menyaring makna di tengah bunyi nyaring yang yang tak bermakna.

    Selamat menyongsong ‘bencana’ ledakan Big Data. Mari mengantisipasinya dengan melihatnya sebagai ‘peluang’: menjadikan data sebagai pemermudah pengambilan keputusan. Mari – kris moerwanto