“Innovation distinguishes between a leader and a follower.” – Steve Jobs

Siapa yang tak kenal cendol atau dawet?  Minuman segar khas Indonesia ini, terbuat dari tepung beras, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Resep minuman klasik ini masih terus dilestarikan. Meskipun terlihat sederhana namun rasanya sungguh istimewa. Minuman ini biasanya disajikan sebagai pencuci mulut atau sebagai makanan selingan.

Lai Moi, punya cara sendiri mempopulerkan minuman tradisional tersebut sehingga tidak hanya sebagai jajan pinggiran jalan, tetapi juga bisa hadir di mall ataupun supermarket modern.  Kisahnya bermula saat sang suami mengajak Lai Moi menyantap cendol. Ia menjadi terpikir untuk memulai usaha cendol setelah beberapa usaha sebelumnya selalu kandas dan kurang menguntungkan. Kebetulan saat itu, dia mendapat resep membuat cendol dari seorang kenalan, maka dimulailah usaha barunya itu.

Karena tidak mau menggunakan pewarna buatan, Lai Moi akhirnya mendapatkan warna hijau pada cendol dari daun suji yang awalnya didapatkan dari tanaman pagar tetangga. Setelah usahanya mulai maju dan kebutuhan daun suji cukup banyak, dia menyewa lahan seluas 1.000 meter persegi di Ciherang, Kabupaten Bogor, untuk ditanami suji. Selain itu, ia juga berkonsultasi dengan beberapa ahli dari Institut Pertanian Bogor untuk menanyakan kandungan kolesterol pada santan, sehingga pada penyajiannya ia menggunakan kelapa yang dicuci bersih kemudian direndam dalam air hangat, lalu diperas.

Pada penjualan awal, hanya 20 gelas saja yang terjual setiap harinya dengan mempekerjakan satu orang saja. Sisa dagangannya kadang dikonsumsi sendiri atau dibagikan ke tetangga.

”Karena hasilnya kurang bagus, pegawai saya minta berhenti. Dia bilang, kasihan kalau usahanya enggak jalan, tetapi saya tetap harus membayar gaji bulanannya,” ujar Lai Moi.

Sejak menjadi pegawai garmen, Lai Moi memang dikenal pantang menyerah. Beberapa bulan kemudian penjualan cendolnya membaik.  Dibantu sang suami, ia kemudian memberikan nama produk untuk cendolnya dengan nama “Cendol de Keraton”.

 

cendoldekeraton

 

Usaha Lai Moi yang sudah berlangsung 5 tahun tersebut kini menyebar dalam bentuk gerai waralaba. Sedikitnya ada 60 gerai di berbagai kota seperti Jabodetabek, Bandung, dan Semarang, 20 gerai di antaranya milik Lai Moi sendiri, sedangkan 40 lainnya milik mitra yang membeli lisensi waralaba. Di 20 gerai cendol miliknya, Lai Moi mempekerjakan setidaknya 40 orang karyawan.

Model kemitraan yang dikembangkan Lai Moi tak sulit. Mitra berinvestasi Rp 6 juta, lalu mereka mendapat berbagai peralatan untuk berjualan serta bonus gratis 50 sajian pertama. Beberapa varian rasa pun ditambahkan untuk merangsang penjualan, seperti rasa rasa durian, nangka, float, dan red beans.

“Rata-rata penjualan sehari sekitar 1.000 gelas untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung. Kalau akhir pekan, biasanya penjualan sedikit meningkat,” kata Lai Moi, Juli lalu, di rumah produksi Cendol de Keraton di Bogor.

Kini, Lai Moi sedang merencanakan ekspansi usahanya ke luar negeri dengan target pasar sementara beberapa negara Asia.

Sahabat DoInc bisa mengintip usaha Lai Moi di alamat situs http://www.cendoldekeraton.com/

 

 

Sumber:
Kompas.com
cendoldekeraton.com