Hari ini saya ngetwit dengan perasaan galau : “Kadang itu sebel dan bingung :) . Kok negara yang punya resources jauh lebih sedikit tapi jauh lebih maju”.

Apa sebenarnya yang membuat kita sebagai bangsa yang memiliki begitu banyak potensi kultur dan talenta yang melimpah kok seperti justru tertinggal dunia kreativitasnya? Kenapa begitu banyak bakat namun kita justru banyak tergantung dan justru menyukai produk-produk impor. Jangankan tergantung brand impor, kitapun sangat tergantung oleh produk-produk dari luar alias impor. Beras, garam, bawang, apel, jeruk dan entah apa lagi.

Apakah benar kita se-tidak berdaya itu? Dan apakah memang kita terbiasa menjadi bangsa yang rela semua ini terjadi? Dan apakah kita hanya akan saling menyalahkan? Entahlah…

Beberapa waktu lalu saya brainstorming dengan teman-teman TDA (Komunitas UKM Tangan Di Atas) dan sepakat untuk membuat sebuah project yang saya yakin akan bermanfaat.

LOCAL BRAND >> Keren

Budaya PROTOTYPING, memang seperti tak mendapat ruang disini. Membuat model produk dalam bentuk apapun; dari furniture, mobil, peralatan masak/dapur sampai sepatu misalnya seperti tak mendapat ruang. Sehingga seperti tak ada budaya membuat produk prototype. Kita bangsa pencontek? Ya bisa saja, karena memang kita tak mengenal apa sebenarnya form and function harus di-exercise. Menyedihkan bukan? Pernahkan kita berpikir design tentang membuat mobil berpenumpang 1 orang yang kecil dan anti polusi misalnya? Atau menciptakan stasiun sepeda yang berupa locker di perkantoran misalnya? Kota-kota yang ekonominya bagus karena tumbuhnya kelas kreatif yang tinggi. Kota-kota yang dihuni banyak warga kreatiflah yang menjadi makmur, sebut saja: Singapore, Melbourne, Helsinki, Barcelona sampai Milan.

KREATIVITAS – KEMAKMURAN dan SPIRITUAL

Hubungan kreativitas dan kemakmuran seperti masih ada gap yang sangat sangat sangat lebar. Kreativitas (baca :design) masih dianggap sebagai COST bukan investasi kemakmuran yang harus diperjuangkan. Kreativitas masih menjadi barang mahal dan elit bagi bangsa ini. Kalau punya uang lebih baru terpikir design yang keren dan inovatif. Padahal justru sebaliknya menurut saya; ketika kita berjuang atau survival kita butuh kreatif dan inovatif. Kreatif adalah sikap hidup dari bisnis saat ini untuk menambah value yang akhirnya mendatangkan kemakmuran.

Kreativitas adalah spiritual yang harus dikembangkan. Karena dengan begini kita memiliki rasa bangga, rasa memiliki dan rasa cinta. Kreativitas harus menjadi social capital, tak sekedar angka. Valuenya bisa sangat besar. Bagaimana bisa sebuah negara Itali yang bukan penghasil kopi misalnya menghasilkan capucino atau latte. Nah kita kurang apa? Sumber daya alam dan talenta berlimpah.

Kolaborasi DO ART dan TDA ini akan dimulai dengan tekad bahwa Brand Indonesia sebenarnya keren dan layak dibanggakan. Budaya prototyping harus disebarkan. Menaikkan nilai tambah sebuah produk atau brand adalah tanggung jawab bersama. Project ini bisa membukakan mata kita betapa kita memang mampu berbicara di kancah dunia jika kita perduli dan percaya diri.

Yuk kita coba.

Handoko Hendroyono