Setelah menulis melalui akun twitter saya :

“Designer hari ini harus ikut memecahkan masalah sosial. #designthinking”
“Designer hari ini harus mampu menggabungkan teknologi dan sosial secara platform yang mampu memberi makna. #designthinking”
“Designer harus mampu menjadi pendengar yang baik yang selanjutnya menanggapi dengan solusi yang bermanfaat secara komunitas. #designthinking”

Tiba-tiba ada yang bertanya : “#designthinking caranya gimana?
Jadinya pengen menulis tenting design thinking yang ada di benak saya.
Pada jaman saya menjadi designer atau art director tahun 90-an, design yang saya pahami adalah menciptakan bentuk sesuai dengan fungsi atau tujuan yang hendak dicapai (Form follows Fuction). Ketika saya mendesain sebuah iklan atau poster ya bagaimana saya membuat pesan itu sampai dengan cepat dan efektif melalui persuasi yang tujuannya jualan. Atau ketika saya mendesain t-shirt dengan model yang unik dengan pesan visual yang pas.

Saya jadi terpikir apakah “Form follows Fuction” masih relevan? Pikiran ini muncul karena mendesain hari ini benar-benar berbeda dengan ritual mendesain sepuluh atau duapuluh tahun lalu. Ini beberapa hal yang membuat peran designer di era sekarang berubah :

1. ENVIRONMENT & CLIMATE CHANGE
Kondisi alam yang semakin rusak walaupun terlambat memunculkan kesadaran penghuni planet ini untuk tanggap berbuat sesuatu. Fenomena Re-Use, Re-Design dan Re-Cycle muncul dengan derasnya sebagai tren baru. Memakai baju bekas menjadi lifestyle. Menggunakan bahan bekas untuk keperluan sehari-hari dari fashion sampai stationary menjadi barang yang bergengsi.

2. THE WEB & OPEN SOURCE
Saling terkoneksinya penguin planet ini membuat perilaku atau kultur manusia jaman “flat world” ini memilliki value baru yang lebih bermanfaat dan terkontrol karena memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan. Kekuatan “crowd” semakin dahsyat dari hari kehari. Rasa senasib sepenanggungan dari penghuni sebuah desa, kota sampai negara bisa terdengar dan memberi inspirasi penghuni planet ini dimanapun juga. Keperdulian teman saya Singgih Kartono di Temanggung dengan Radio Magno/Spedagi atau Ukke di desa Cihanjuang dengan Circa HandMade bisa menginspirasi dan menjadi cerita yang kuat bagi siapa saja. Juga bentuk-bentuk open source dan social networking site seperti ModCloth, Threadless, Vimeo atau Nebengers menjadi alternatif penting bagi masyarakat.

3. GLOBALIZATION & MEDIA DEMOCRACY
Flat World menjadi pemikiran baru yang berpengaruh bagi tingkah laku penghuni planet ini. Bangkitnya LOCAL justru menjadi kuat dengan fenomena GLOBALIZATION saat ini. GLOCAL : GLObal loCAL. Info-info tentang eksistensi lokal sangat mudah untuk mengglobal. Daerah terpencil begitu mudah untuk eksis ketika mendapat bahasan dari CROWD. Peran media yang bergeser dari spirit “Bad News is a Good News” menjadi “New News is a Good News” memberi energi baru bagi kebangkitan kekuatan publik. Crowd menjadi kekuatan utama yang menggerakkan kreativitas dan mendorong inovasi-inovasi baru.

4. PRODUCTION & CONSUMPTION

Keterlibatan crowd dalam proses produksi dan konsumsi bisa dengan kuat mempengaruhi pola kreativitas publik. Gerakan DIY : Do It Yourself dan juga munculnya respek terhadap craft yang melibatkan langsung sisi manusia bukan mesin. Pengaruh yang kuat pola produksi dan konsumsi ini akan membawa efek positif terhadap local content.

Dari beberapa poin diatas pola pikir dan pola kerja designer saat ini berubah secara total. Tak lagi sekedar “Form follows Funtion” tapi bagaimana membangun kebermanfaatan baru yang bisa jadi berupa pemikiran design (design thinking) dibanding sebuah karya design yang bersifat egois atau individual. Design Thinking adalah pola pikir atau proses yang melibatkan banyak orang atau sebuah platform yang mampu menarik inisiatif crowd untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Airbnb adalah contoh paling nyata dan jernih. Bagaimana sebuah design thinking menghasilkan pola kerja atau platform yang mampu memberdayakan masyarakat. Tak sekedar rental space untuk keperluan penunjang sebuah sistem destinasi kota yang berkaitan dengan pariwisata tapi sekaligus juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Pemberdayaan masyarakat untuk menjadi bagian dari layanan terpadu. Design Thinking bukan sekedar mendesain tapi juga membentuk sebuah ekosistem.

Peran designer hari ini sangat positif untuk jadi bagian dari pemecahan masalah. Tidak egois dan tak individual bagi designer adalah esensial hari ini. Membangun makna yang akhirnya terkoneksi di masyarakat. Sebuah kabar baik.

Comments

  1. Irvan says:

    Design Thinking is
    the confidence that new, better things are possible and that you can make them happen.
    And that kind of optimism is well-needed in education.