Sedang ramai di media sosial mengenai sosok yang satu ini. Didiet Maulana mengikutsertakan goodie bag limited edition-nya dalam ajang Grammy setelah diajak bekerja sama dengan Tumi Travel. Ternyata bukan Grammy saja, produk Didiet pernah dipakai oleh Maudy Koesnadi dalam perhelatan film dunia yaitu Cannes. Dalam bisnisnya Didiet mengangkat salah satu keindahan kerajinan Indonesia, yaitu tenun ikat.

Mari kita berkenalan lebih jauh dengan beliau.

Didiet memiliki yang memiliki latar belakang arsitektur ini memang sejak dulu gemar menggambar. Dari kecil ia suka menggambar orang dan mendetailkan sketsa yang ia gambar dengan menggunakan pakaian dan tas. Ketika bekerja, ia tergerak untuk menyumbangkan sesuatu buat negeri ini. Waktu itu tengah heboh klaim negara lain atas budaya kita, dan Didiet tidak ingin hal ini terjadi lagi karena itulah ia mulai mencari ide untuk menguatkan hasil seni Indonesia, dan ia pun memilih tenun ikat.

Setahun pertama, ia membuat koleksi ready to wear untuk pasar perempuan. Kemudian demand untuk pasar laki-laki meningkat, menjawab permintaan tersebut Didiet mengeluarkan Men’s Collection, yang dibintangi Nicholas Saputra tahun 2012. Pada waktu itu belum populer kain tenun ikat dijadikan blazer, jaket, celana dan sebagainya. Kemudian usahanya berkembang, pertengahan 2012 banyak permintaan kebaya, baik kebaya kurung maupun kebaya nasional yang bisa digunakan dengan tenun ikat. Kemudian 21 April 2012 akhirnya Didiet meluncurkan koleksi kebaya.

Ia mengaku, bisnis kreatif ini dibangun dengan cinta dan kepercayaan. Beberapa tahun lalu perajin belum sebanyak sekarang. Sehingga antara demand dan supply sering tidak berimbang. Namun sekarang semakin banyak perajin dan pemerintah daerah semakin positif dan aktif mendorong pelaku usaha tersebut. Yang diuntungkan adalah para pengguna bahan tersebut.

Menurutnya, Lika liku pasti ada. Mulai dari plagiat model busana hingga bahan tekstil yang sudah dibuat namun dijual kepada pihak lain. Awalnya pun banyak yang belum yakin dengan kemampuan Didiet karena ia tidak memiliki latar belakang fashion. Tetapi ia tetap menyikapinya secara positif, artinya harus semakin kreatif menelurkan ide-ide baru.

Saat ini ia berkonsentrasi memasarkan produk tenun ikat di butiknya Jl. Dempo 1 No.59 Jakarta Selatan, Bali, Alun-Alun Grand Indonesia dan Galleries Lafayette.

 

Berwirausaha tidak harus memiliki latar belakang pendidikan yang sama pula. Asal tekun berusaha dan terus berinovasi, semua menjadi mungkin. Bagaimana dengan kamu?