Tidak bisa dipungkiri bahwa diskon menarik konsumen untuk berbelanja. Dengan diskon, konsumen cenderung untuk bersikap impulsif untuk membeli banyak barang. Tapi, layaknya pedang bermata dua, diskon bisa berdampak buruk bagi ‘kesehatan’ brand. Selain nilai jual yang lebih rendah dan berujung pada lebih sedikitnya profit yang didapat, berikut dampak buruk dari sering-sering memberi diskon.

Kecewanya konsumen

Menurunkan harga bisa berarti penurunan kualitas juga. Walau di awal konsumen merasa senang karena bisa memiliki produkmu tapi jika kualitas yang diberikan berbeda, wah…konsumen bisa kecewa berat. Di sisi lain, jika kamu sering memberikan diskon dengan kualitas yang sama dengan harga awal, konsumen yang membeli dengan harga penuh pastinya akan berpikir ulang untuk kembali membeli dengan harga asli, “Tunggu diskonan, aja.”

Menjadi perhatian kompetitor

Sering melakukan diskon berarti produk kita mengalami kesulitan penjualan. Kompetitor pasti akan memerhatikan ini dan memformulasikan cara supaya bisa memperbaiki produk mereka agar tidak seperti produk yang terkena diskon. Diskon juga bisa memicu perang harga.

Image brand jadi rusak

Sering dengar kan kalimat “Namanya juga barang diskonan.” Nah, itu yang bakal terjadi kalau kamu terlalu seiring mengadakan diskon. Kepercayaan pelanggan akan nilai produkmu akan turun. Mereka akan menyejajarkan produkmu dengan produk yang kualitasnya kurang bagus. Selain itu, keseringan memberikan diskon akan membuat produkmu sulit untuk kembali menaikkan harga.

 

Wah, diskon seperti buah simalakama ya. Sebagai pewirausaha, kita harus pintar-pintar meregulasi diskon agar produk kita tidak jatuh di mata konsumen.

Punya pengalaman dengan diskon? Yuk, share pengalamanmu