Kenali passionmu dan go for it! Kira-kira kalimat ini cukup tepat untuk merepresentasikan apa yang dilakukan oleh 5 anak muda yang senang bermusik, yaitu Muhammad Rizky (Kimo) , John Paul Patton (Chocky) , Ade Aryo Ramadan (Ade), Hadistian Muhammad Yasin (Iaz) serta Harvy Abdurachman (Harvy) ketika ‘ngobrol-ngobrol’ santai mereka untuk buka sebuah kursus musik digital dan layanan pembuatan materi audio, berubah wujud nyata menjadi Double Deer, kemudian petualangan yang sebenarnya pun dimulai. Studio yang terletak di lantai dua sebuah rumah dengan pohon rindang dibilangan Panglima Polim ini sudah jadi “base camp” Double Deer semenjak perusahaan ini didirikan pada 15 Oktober 2012.

double deer crew2

Chocky dan Ade

Kelas Double Deer Music Course yang pertama dimulai pada November 2012, setiap angkatan biasanya terdiri dari 4-5 murid, hingga hari ini telah ada 9 angkatan dengan total murid mencapai 40 orang. Pada awalnya Kimo dan Ade yang mengenyam pendidikan singkat di SAE Institute, Jakarta, menjadi pengajar di Double Deer Short Course, kini, Kimo menjadi pengajar tetap. Silabus Double Deer Music Courses cukup padat dan singkat, hanya satu bulan dengan jadwal kelas 2x seminggu, pukul 19.00-23.00 WIB. Silabus yang dibangun untuk kursus berisi seputar cara memproduksi musik secara digital dengan menggunakan software music Ableton Live. Melalui kursus, Double Deer banyak menemukan bakat-bakat dalam bermusik dari murid-murid yang pernah menempuh pendidikan singkat tersebut, salah satu diantaranya adalah The Nelwans.

Selain kursus singkat, Double Deer terbuka dengan layanan audio production yang mengerjakan berbagai materi audio seperti produksi jinge iklan, scoring, voice over serta recording. Chocky dan Ade adalah music composer untuk memproduksi materi-materi tersebut. Double Deer tidak melakukan banyak strategi marketing, namun koneksi yang luas membuat mereka dikenal secara mouth to mouth. Coki serta Ade menambahkan bahwa acara kelulusan murid dari Double Deer Music Course termasuk strategi marketing mereka. Acara tersebut digagas setiap dua bulan sekali dengan nama Frequency Factory. Selain itu, membagikan informasi melalui social media seperti facebook dan twitter membantu memudahkan beberapa orang untuk lebih mengenal Double Deer. Untuk segala kegiatan operasional sampai social media, Double Deer dibantu oleh Ryan.

Klien yang menggunakan jasa Double Deer beragam, mulai dari Production House, Fashion Designer hingga Advertising Agency. Ketika ditemui DoInc, Double Deer sedang mengerjakan sebuah proyek besar, sebuah aplikasi lebaran milik CIMB NIAGA yaitu KARTU BERLAGU. Aplikasi ini akan mengubah pesan lebaran yang ditulis oleh partisipan dan diproses menjadi lagu oleh Double Deer se-segera mungkin. Genre lagu dapat dipilih sesuai genre favorit partisipan, ada pop, rock, RnB ataupun dangdut! Asteriska, café dan wedding singer, salah satu penyanyi yang terlibat dalam proyek ini mengatakan, bahwa ia baru pertama kali mendapatkan tantangan/proyek semacam ini. Selain Asteriska, ada dua penyanyi lainnya yang bergantian secara shift untuk menyanyikan pesan lebaran kiriman partisipan.

nyanyik1 tim cimb

 

 

 

 

 

 

 

Chocky menambahkan, selama proyek KARTU BERLAGU CIMB NIAGA 2013, Double Deer Courses tetap berjalan, namun layanan audio production jika tidak memungkinkan harus mereka tolak. Ada alasan khusus yang dikemukan, bahwa Double Deer tidak ingin menurunkan kualitas hanya karena ingin mengambil proyek sebanyak-banyaknya. Bagi mereka kualitas serta menepati deadline adalah hal utama.

 

Etos kerja yang baik, bagaimana menurut para Sahabat?