Not tomorrow. Not next week. But today. The true entrepreneur is a doer, not a dreamer. – Nolan Bushnell

Menjalankan bisnis ibarat naik roller coaster. Meskipun menyenangkan dan menarik, akan ada saat-saat ketika kita begitu ketakutan dan merasa tidak berdaya. Namun dengan semangat dan keyakinan yang kuat, hasilnya akan terasa di kemudian hari.

Itulah yang dialami Anton Riyanto ketika menjalankan usaha penerbitan buku AgroMedia Group. Sejak awal bekerja sebagai staf marketing di dunia penerbitan tahun 1981, Anton sudah hafal bidang apa saja yang akan menjadi trend sebagai bacaan masyarakat. Sampai akhirnya tercetus untuk mendirikan usaha sendiri di bidang yang sama pada tahun 2001.

AgroMedia Group berdiri pada tahun 2001 di Jakarta, dan mengkhususkan diri sebagai penerbit buku pertanian. Menurut Anton,  bidang ini dipilih karena waktu itu hanya bidang ini yang dianggap menjual.  Beberapa tahun kemudian, didirikan lagi WahyuMedia yang khusus menerbitkan buku pelajaran penunjang untuk siswa TK sampai SMA. GagasMedia kemudian ikut mewarnai dunia remaja dengan banyak menerbitkan buku fiksi. Sampai akhirnya lahir belasan penerbit lain dengan spesialisasi masing-masing.

“Sewaktu berjualan ke beberapa toko buku, ternyata ada banyak kategori buku lain selain pertanian yang punya potensi jual lebih tinggi. Misalnya buku-buku yang menggarap pembaca dari kalangan anak, remaja, sampai executive muda,” kata Anton.

Setiap penerbit yang ada di bawah bendera AgroMedia Group memiliki badan usaha sendiri, dan memiliki share holder yang berbeda-beda. Anton pun mengakui kalau dirinya bukanlah pemilik tunggal atau pemegang saham terbesar. Pemegang saham umumnya para pengelola awal dan memiliki kompetensi khusus pada bidangnya. Selain itu, semua karyawan yang memiliki dana juga selalu bisa menjadi share holder.  Saham sendiri tidak diberikan gratis. Mereka setor dana untuk memenuhi kewajiban sebagai pemegang saham.

Menariknya, AgroMedia Group juga memiliki beberapa perusahaan yang bergerak diluar dunia perbukuan,  misalnya property, hotel, distributor bahan bangunan, showroom mobil, dan lain-lain.  Umumnya bisnis yang dikelola adalah bisnis kecil karena dana terbatas. Hanya saja, beberapa bank terkemuka saat ini sudah bersedia memberikan pinjaman untuk kepentingan tambahan modal kerja. Menurut Anton, seperti halnya banyak perusahaan kecil yang baru berdiri, selalu saja ada kendala keuangan ataupun kendala management pengelolaan.

“Tetapi semangat dan komitmen yang baik selalu bisa mengatasi berbagai kendala teknis tersebut,” ungkapnya.

Anton yang berangkat dari pemasaran juga mengaku kalau dirinya sama sekali tidak begitu pandai mengelola keredaksian. Karenanya ia lebih konsentrasi penuh di pemasaran saja. Dari situlah awal berdirinya beberapa distributor AgroMedia Group.

“Awalnya hanya menjualkan buku sendiri, lalu beberapa penerbit lain tertarik untuk bersama-sama memasarkan buku yang mereka terbitkan. Saat ini sudah ada 7 distributor buku yang memasarkan buku-buku dari sekitar seratusan penerbit lain. Masing-masing distributor juga punya kekhususan masing-masing. Ada yang khusus memasarkan buku-buku dari penerbit tertentu, ada pula yang khusus menjual pada saluran distribusi tertentu diluar toko buku,” kata Anton kepada DoInc.

Hampir semua kategori buku AgroMedia Group diterbitkan setiap bulannya. Mulai dari buku pertanian, komputer, penunjang pelajaran, kewanitaan, fiksi, kewirausahaan, masakan, dan sebagainya. Setiap bulan, sekitar 90 – 150 judul buku yang diterbitkan AgroMedia, tergantung kesiapan naskah dan dana di masing-masing penerbit.

Animo masyarakat terhadap buku-buku terbitan AgroMedia Group menurut Anton cukup menggembirakan, “Buku-buku yang diterbitkan memang diarahkan untuk kepentingan pembaca. Ada yang tepat, ada juga yang meleset. Tapi umumnya animo masyarakat terhadap buku-buku yang diterbitkan cukup baik. Selalu ada pertumbuhan penjualan di setiap tahun. Tidak besar, tetapi tumbuh.”

Ketika ditanya soal seleksi calon penulis, Anton mengatakan kalau yang paling penting naskahnya tepat dan menjawab kebutuhan pasar. Tidak ada standar platform penulis yang dituntut. Penulis dengan platform baik tetapi jika naskahnya tidak cocok tidak akan diterbitkan juga, “Yang penting naskahnya, bukan platformnya, jumlah follower twitter, dan sebagainya. Platform memang penting untuk penulis agar mereka dapat mendeteksi selera konsumen dan untuk kepentingan publikasi. Hanya saja, kecocokan konten naskah dengan kebutuhan pembacalah yang menjadi pertimbangan mutlak atas terbitnya setiap judul buku.”

Hingga saat ini, AgroMedia Group masih konsentrasi penuh pada dunia penerbitan buku. Kalaupun ada bisnis lain di luar buku, itu hanyalah investasi lain mewadahi keinginan sejumlah teman karyawan atau teman investor yang cocok. Kedepannya, semua penerbit akan lebih fokus menggarap kategori buku yang menjadi garapan utama mereka. Demikian juga halnya dengan distributor, akan lebih fokus dengan setiap jenis pasar yang mereka garap selama ini.

Mengenai fenomena dunia digital yang semakin canggih, Anton mengaku tidak begitu memengaruhi penjualan print book, “Jika konsumen beralih mencari informasi dan hiburan via internet sudah tentu penjualan print book tidak akan berkembang lagi atau malah menurun.”

Menurutnya tugas penerbit tinggal mengubah kemasan informasi yang dijualnya. Tidak mudah juga menebak lamanya waktu pergeseran pola pencarian informasi dan hiburan dari prospek pembaca, “Yang jelas, setiap perubahan konsumen wajib diikuti dengan baik jika tetap ingin survive.”

Bagi sahabat DoInc yang akan atau baru memulai usaha penerbitan, Anton menyarankan untuk tidak masuk pada banyak kategori karena menurutnya setiap kategori buku memiliki prospek pembaca dan persaingannya sendiri.

“Fokus saja melayani target pembaca. Pahami seleranya agar buku yang terbit dapat menjawab kebutuhan mereka. Jangan menerbitkan buku berdasarkan selera pengelola. Belum tentu selera pengelola sesuai dengan selera pembaca,” kata Anton menutup pembicaraan.

Bagaimana sahabat DoInc sendiri? Tertarik usaha penerbitan buku?

 

Sumber gambar: Reuters