Dalam fotografi, hewan bisa menjadi objek yang menarik. Sebagai bagian dari ekosistem alam, hewan punya karakter serta peran tersendiri. Apalagi hewan banyak sekali ragam jenisnya. Itulah mengapa fotografi hewan pun menjadi bidang yang tak kalah banyak diminati. Pendekatannya pun beragam. Kalau sebelumnya kita hanya akrab dengan pendekatan fotografi wildlife dan foto jurnalistik yang memotret eksotisme kehidupan hewan di alam sebagai habitat aslinya, kini kita mulai dikenalkan dengan pendekatan lain dalam melihat hewan dalam karya fotografi, yaitu sebagai sebuah simbol yang mengantarkan kita pada sebuah pemaknaan tentang sebuah isu. Dwi Putra kini tercatat sebagai salah satu nama fotografer tersebut.

kadal dwi putraular kobra dwi putra

Sebagai pecinta hewan sejak kecil, Putra memang punya cara pandang dan pendekatan lain untuk membawa hewan ke dalam karya fotografinya. Pada Maret 2013 tahun lalu, ia menggelar pameran tunggal bertajuk Familiar Faces yang menampilkan foto-foto portrait hewan-hewan yang biasa kita temui di lingkungan sehari-hari, seperti ayam, kodok, kambing, anjing, kelinci, tokek, dan bahkan kecoa. Hewan-hewan tersebut difoto dengan teknik fotografi studio, yaitu menggunakan pencahayaan lampu dan layar putih, persis seperti teknik foto portrait untuk manusia. Detail raut wajah hewan-hewan tersebut pun bisa terlihat jelas, sehingga kita bisa menerka ekspresinya.

kodok dwi putraayam dwi putraanjing dwi putra

Menariknya, jika dipahami lebih dalam lagi, foto-foto di seri Familiar Faces ini sekaligus mempertanyakan relasi kita, manusia, dengan kehidupan sekitar. Dengan melihat raut wajah para hewan, kita serta merta akan mengira mereka sedang berekspresi selayaknya manusia berekspresi. Putra mencontohkan, ketika kita melihat portrait tokek yang mulutnya terbuka lebar, maka kita menganggap tokek tersebut sedang tersenyum lucu. Padahal, menurut Putra, tokek tidak selucu itu, karena tokek membuka mulut untuk menggigit.tinya menarik untuk melihat mereka (hewan-hewan) dari perspektif manusia. Maksudnya adalah mengambil foto portrait mereka selayaknya manusia.

“Sepertinya menarik untuk melihat mereka (hewan-hewan) dari perspektif manusia. Maksudnya adalah mengambil foto portrait mereka selayaknya manusia. Saya ingin menyajikan hewan-hewan yang kita sudah familiar itu di setting yang berbeda. Dengan begitu, kita dapat melihat ekspresi muka mereka yang berbeda-beda,” ujar fotografer lulusan jurusan Jurnalistik di Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta itu.

“Kita cenderung mengartikan perasaan dan kepribadian mereka berdasarkan pengalaman kita. Tetapi, apakah kita memang benar-benar mengetahui perasaan dan emosi mereka yang sebenarnya? Saya bertanya-tanya apakah hewan-hewan ini mengekspresikan perasaan mereka selayaknya manusia atau tidak sama sekali?” jelas Putra panjang lebar

Berbicara soal teknis pemotretan, untuk serial foto Familiar Faces yang memakan waktu tujuh bulan pengerjaan ini, Putra mengandalkan kamera DSLR dengan lensa macro 100 mm dan lensa wide dengan bantuan flash, softbox, reflector, dan backdrop putih. Semuanya menghabiskan waktu tujuh bulan dan bisa menghabiskan puluhan frame.

“Hal yang paling penting untuk diingat ketika memotret hewan adalah sabar,” tegas pengagum animal photographer Riza Marlon, Tim Laman, Joel Sartore, dan Brad Wilson ini.

Meniti dari Kelas Pagi

Hasrat fotografi Putra mulai bergejolak sejak ia bergabung di sebuah sekolah dan komunitas Kelas Pagi Yogyakarta. Di situ, Putra mengaku bisa mempermudah proses belajar fotografi, bertemu dengan teman-teman yang memiliki ketertarikan sama, dan pastinya menjembataninya untuk sampai ke pameran tunggal pertamanya itu.

Proyek foto portrait hewan ini sudah ia mulai sejak Agustus 2012. Awalnya ia mencoba memotret beberapa hewan peliharaannya. Setelah dirasa foto-foto percobaannya itu berhasil, ia pun mendiskusikannya dengan teman-temannya di Kelas Pagi Yogyakarta, termasuk Kurniadi Widodo yang menjadi mentor di sana. Kurniadi Widodo pun tertarik dengan gagasan dalam foto-foto Putra. Proyek foto tersebut pun dilanjutkan dan disempurnakan hingga akhirnya dipamerkan di Lir Café, Maret lalu.

Konsisten Menggunakan Hewan Sebagai Perantara Gagasan

Seperti yang diakui oleh Kurniadi Widodo yang kemudian menjadi kurator untuk pameran Familiar Faces dalam catatan kuratorialnya, Putra memang konsisten dalam menggunakan perantara representasi hewan dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Selain Familiar Faces, Putra beberapa kali membuat karya fotografi hewan lainnya.

Di tahun 2011, Putra menampilkan seri Buaya Darat untuk pameran tugas akhirnya di Kelas Pagi Yogyakarta. Berangkat dari ungkapan serupa dalam bahasa Indonesia yang berarti pria yang hobi berganti-ganti pasangan, Putra menghadirkan imaji buaya darat tersebut dengan buaya sungguhan. Buaya kecil peliharaannya difoto sedang “beraksi” pada sebuah boneka Barbie tanpa busana.

Selain itu Putra juga pernah membuat seri Pretty’s Daily Activity yang bercerita tentang kehidupan topeng monyet bernama Pretty dan pelatihnya. Yang menariknya lagi, Januari 2013 lalu, ia membuat karya video yang diperoleh dari rekaman kamera yang ia ikatkan di kepala musang yang dilepas di sebuah kebun. Proyek video bertajuk Through the Eye of Beholder itu adalah bagian dari workshop pameran Meminjam Mata dan Melihat Ruang oleh Yudha Kusuma Putera di Kedai Kebun Forum

“Menurut saya, hewan adalah mahluk selain manusia yang hidup di muka bumi yang keberlangsungan hidupnya perlu dilestarikan. Relasi antara manusia dan hewan adalah mereka saling bergantung satu sama lainnya,” ucapnya

Melalui karya-karya fotografi hewan Putra, pikiran kita akan selalu diajak bersafari, melihat-lihat hewan dari sudut pandang manusia, mempertanyakan kemanusiaan dari hewan. Selain giat menggeluti fotografi hewan, sekarang Putra juga mengerjakan proyek-proyek fotografi jurnalistik, dokumenter, fine art, dan fotografi komersial.

 

artikel disadur dari www.indonesiakreatif.co.id