Nama Fransiska Hadiwidjana mungkin tidak begitu kedengeran gaungnya dibanding pendiri bisnis start-up lainnya. Meski begitu, Fransiska memiliki kontrobusi yang cukup besar bagi start-up Indonesia. Lulusan ITB jurusan Teknologi Informatika ini sukses menjadi pendiri dan CEO sebuah start up yang fokus pada penggunaan teknologi ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, Prelo.

Prelo adalah sebuah aplikasi khusus ponsel pintar yang menyasar segmen barang-barang pre-loved alias barang-barang bekas yang masih memiliki kualitas baik. Timnya juga selalu mengutamakan konsumen dengan menjamin keamanan transaksi dan keaslian barang yang akan mereka terima dari pengguna lain yang menjual barang pre-loved-nya. Supaya berbeda dengan platform sejenis yang hanya melampirkan deskripsi barang, Prelo mengajak penjual untuk bercerita mengenai sejarah barang yang dijualnya.

Saat menggunakan aplikasi ini, pengguna bisa melihat berbagai kategori barang yang dijual. Prelo mengklasifikasikannya dalam kategori  Women, Men, Beauty & Grooming, Gadget, Hobi, Sports & Outdoor, Buku, dan Baby & Kid.

Tak seperti rekan-rekannya yang bergender pria, kemampuan programming Fransiska mematahkan anggapan bahwa hanya pria yang bisa bersaing dalam ranah teknologi di Asia Tenggara. Sederet nominasi pernah diraihnya, antara lain:

  • Menjadi peringkat pertama dalam 10 perempuan pengusaha teknologi versi Forbes.
  • Dipercaya untuk masuk dalam program tahunan Singularity University Graduate Studies Program 2012 (GSP12) di komplek NASA.
  • Masuk ke daftar website UNESCO mengenai Cracking the Code: Girls’ Education in Stem.