Problem apa yang paling menyita waktu anda minggu ini? Jika anda seorang pemimpin organisasi, mungkin anda sedang dibuat pusing dengan gaya adem-ayem dan minim kepedulian para anak buah yang sudah berlangsung sekian lama. Mungkin anda bertanya-tanya apa lagi yang bisa dan harus dilakukan untuk membuat mereka berpikir dan bertindak seperti anda? Atau bisa jadi anda seorang brand manager yang tengah berupaya keras memahami social media sebagai instrumen baru  marketing.

Dalam benak anda mungkin ada satu pertanyaan yang terus mengganggu tanpa punya jawaban pasti: “Bagaimana mungkin ada seorang anak muda bernama @RadityaDika bisa punya follower mendekati 3 juta orang sementara brand yang anda kelola harus bersusah payah untuk bisa mendapat tambahan 100 follower saja?” Siapapun anda dan apapun yang anda kerjakan pasti pernah, masih dan akan terus mengalami problem dalam menjalankan pekerjaan, bisnis dan kehidupan. Siapapun dan dimanapun anda pasti butuh solusi, atau paling tidak punya kesempatan untuk bisa membicarakan problem yang dihadapi dengan orang yang mungkin bisa memberi solusi. Bagaimana dengan anda?

Coba lihat sebentar iklan-iklan lowongan pekerjaan dalam @hariankompas yang sedang anda genggam sekarang. Coba perhatikan berapa banyak iklan lowongan dari berbagai jenis perusahaan. Coba amati berapa banyak posisi yang dicari dan kriteria yang dipersyaratkan. Bagi saya setiap iklan tersebut adalah teriakan minta tolong organisasi yang mengiklankannya. Ini bukan kritikan apalagi cemoohan, namun sekedar observasi atas cara kerja sebagian besar perusahaan. Kebutuhan atas tenaga kerja dengan keahlian tertentu adalah refleksi kebutuhan akan solusi yang bisa diberikan oleh individu tersebut. Lazimnya, setelah dirasa sesuai, anda diminta untuk mencurahkan energi, waktu dan perhatian secara eksklusif dan sepenuhnya hanya untuk perusahaan tempat anda bekerja. Mekanisme ini adalah pola kepegawaian yang paling lazim saat ini. Sayangnya seringkali bukan solusi yang diperoleh justru sebaliknya, lebih banyak problem.

Employment is fine – empowerment is even better. Kepegawaian sama sekali tidak jelek selama tidak menghalangi individu untuk terus berkarya dan berkreasi sesuai dengan passion & purpose-nya. Apakah anda memang sudah memberikan semua yang terbaik pada tempat kerja anda? Apakah anda masih punya kepedulian membantu pemecahan solusi untuk orang/organisasi lain? Jika menjawab ya untuk kedua pertanyaan ini, apa lagi menghalangi anda untuk mulai berkiprah sebagai #GenFlux?

May we be known by the problems we solve. Ini adalah motto #GenFlux yang saya pahami. Bagi pengelola organisasi & perusahaan – kenapa hanya berpikir bahwa solusi hanya bisa diperoleh saat seseorang menjadi karyawan atau konsultan?

Your job description is not your self description. Ini adalah motto #GenFlux yang lain. Bagi individu – kenapa kontribusi harus selalu dikaitkan dengan uang & status?

Bersama beberapa sahabat @pramaditia @mrtampi, kami sepakat mengembangkan sebuat wadah bagi para #GenFlux untuk bekerja, berkarya & berkreasi. Alangkah indahnya jika pemimpin organisasi yang disebut diawal tadi bisa ngobrol-ngobrol asyik dengan teman2 lain yang punya kepedulian mengenai pengembangan diri & kinerja organisasi. Betapa serunya jika Brand Manager tadi bisa berkesempatan duduk bareng dengan para pelaku socmed tanpa harus bicara komersil terlebih dulu. Setiap problem yang ada pada organisasi pasti ada solusinya melalui seseorang diluar sana. What problem have you solved today? Nemo dat quod non habet..

Comments

  1. Komunitas apa? bisakah saya bergabung dengan komunitas tersebut. Saya berada di Surabaya