“Hakuna Matata, what a wonderful phrase, Hakuna Matata, ain’t no passing craze. It means no worries for the rest of your days. It’s our problem free, philosophy, Hakuna Matata”

Sekelumit lirik dari lagu Hakuna Matata yang menjadi soundtrack film animasi Lion King produksi Disney di atas merupakan inspirasi yang membuat Windy Dhanutirto memilih nama JumbaJamba sebagai brand untuk produk bantal binatang buatannya. Usaha yang ia mulai bersama temannya pada 2011 ini, diawali dengan memproduksi boneka burung hantu dalam bentuk bantal dan sekarang berkembang menjadi beragam bentuk binatang seperti gajah, kupu-kupu, monyet, ayam ataupun pinguin.

Memulai dengan bahan-bahan yang ada dan modal tambahan sebanyak 5 juta rupiah, Windy kini memiliki workshop sendiri di daerah Cinere, Depok. Windy memproduksi boneka JumbaJamba dibantu Ibunya, 2 asisten Ibunya dan 2 orang pegawai paruh waktu.

Perkembangan crafting di Indonesia cukup menarik diiringi dengan pertumbuhan entrepreneur-entrepreneur baru dalam bidang tersebut. JumbaJamba hanyalah satu dari beberapa crafter Indonesia yang memproduksi bantal dalam bentuk binatang, namun yang dipelajari oleh Windy, setiap crafter memiliki ciri khasnya masing-masing. Ciri khas JumbaJamba adalah selain mempertahankan kualitas produk yang baik juga terletak pada strategi penamaan dan informasi yang tertera pada setiap produk.

Windy memilih kata ‘adopsi’ bukan membeli, untuk boneka-boneka yang dipamerkan melalui website dan pameran. Tiap boneka memiliki nama dan kepribadiannya sendiri, yang tertera di dalam kartu adopsi ketika customer ‘mengadopsi’ boneka binatang JumbaJamba. Dengan mengkomunikasikan brand dan produk konsep secara konsisten, serta mengikuti banyak pameran, JumbaJamba mulai dilirik oleh Departemen Store dan E-Commerce yang mengajak bekerja sama.

“Saya belajar bahwa penting untuk mempelajari karakter pembeli baik offline maupun online dan menyesuaikan produk yg ditawarkan. Kita juga harus membekalkan penjaga toko atau customer service online shop mengenai brand concept dan produk sehingga mereka nantinya bisa menjelaskan ke pembeli dengan baik. Juga harus sering memperbarui produk karena biasanya ada pembeli rutin atau langganan yang akan melihat produk di lokasi tersebut”, ujar Windy.

Menurut Windy, ini saat yang menarik untuk membangun usaha di bidang craft walaupun di satu sisi, konsumen Indonesia masih belum bisa memberikan apresiasi produk craft dalam negeri setara dengan brand luar negeri. Namun Windy yakin dengan mempertahankan kualitas dan menyuntikan ciri khas, produk Indonesia bisa bersaing dengan produk luar negeri.

Sahabat, siapa yang juga tergerak untuk memulai usaha di bidang crafting?