“Local is a Quality not Geographical Marker” – SUSTAINISM is the New Modernism, Michiel Schwarz, Joost Elffers.

Planet ini tak bisa menghindar dari kenyataan bahwa resources alam semakin habis dan semakin rusak. Dunia global yang serba terkoneksi tak bisa memungkiri bahwa ECODESIGN dan LOKALITAS sangat penting untuk kepentingan bersama. GLOBAL VILLAGE, ya planet semakin sadar dan harus disadarkan terus bahwa menciptakan makna lebih penting dibanding menciptakan bentuk (form) yang sifatnya eksploatatif.

Hal inilah yang yang membuat LOCAL is an ethical, aesthetic and cultural. Memilih dan memperkuat produk/brand local bukan hanya untuk kepentingan gerakan mencintai produk dalam negeri tapi bagaimana membangun kualitas yang didasari kepentingan komunitas. Sesuatu gerakan yang dilandasi makna bersama yang kuat. Bukan lagi “Form follow fuction” tapi “Meaning follow connection”.

Tren tumbuhnya brand lokal terjadi di seantero planet ini; dari Skandinavia ada Marimekko, Brazil ada Havaianas. Dari contoh dua brand tadi yang lekat story kelokalannya saya yakin kita memiliki banyak story yang tak kalah menarik disini. Kita memiliki kultur yang sangat kaya. Kita memiliki talenta yang sangat kuat. Tinggal bagaimana kita membangun makna bersama sebagai komunitas lokal dan sekaligus menjadi Global Village yang terkoneksi. Inilah yang menjadi kunci kualitas brand lokal dewasa ini.

Tren design saat ini mengarah pada empowering people dan brand lokal menjadi spirit Do Art. Perjalanan Jakarta Do Art yang pertama akhir tahun lalu memberi banyak pengalaman dan pembelajaran berharga. Dan yang paling penting membuat rasa percaya diri sebagai gerakan positif yang bermanfaat.
Jakarta Do Art 2 ini mengambil tema “Local is the New Global”,  sesuai dengan isu yang terjadi di era global village juga dalam rangka hari  kemerdekaan kita yang sangat berarti.

Brand-brand lokal kita sangat unik dan menarik. Kita butuh panggung yang pas sehingga ajang ini mampu menjadi medium untuk kita berkarya dan unjuk gigi.

Kekuatan kita sebagai komunitas yang memiliki budaya lokal yang kuat saya yakin akan memperkuat ekonomi lokal. Karena sejatinya pasar lokal tak hanya menjual hasil produksi lokal tapi jadi hubungan yang menguntungkan antara produsen dan konsumen sebagai society. Nah dari sini kita baru membangun kerjasama dengan tetangga (negara lain) secara etis.

Ethical akan menjadi perhatian besar penghuni planet ini untuk itu “Local is the New Global” sangat relevan bagi kita bersama. Yuk kita membangun kekuatan lokal secara kolaboratif. Yuk kita bangun diskursus pentingnya era lokal yang semakin menguat dan beralasan.