Kecintaan Martha Puri Natasande terhadap barang handmade dimulai sejak ia masih kecil. Saat itu ada teman sekolahnya di bangku sekolah dasar yang memamerkan pensil dari Disneyland. Bukannya meminta orangtuanya untuk dibelikan pensil serupa, Martha malah ingin membuatnya sendiri. Alhasil ia membuat hiasan pensil dari buah pinus kering dan saat membawanya ke sekolah, banyak teman-temannya yang tertarik dan bersedia membelinya dengan harga tinggi.

Tidak selesai dengan pensil, kegemaran Martha akan dunia pernak-pernik handmade terus berlanjut. Begitu ia memasuki bangku SMA, ia telah menjual kalung manik-manik yang tengah tren saat itu. Harga kalung manik-manik saat itu seharga dengan bahan-bahan untuk membuat 10 kalung sejenis. Selain dikenakan sendiri, Martha juga menitipkan kalung buatannya ke berapa butik di kawasan Kemang.

Ia pun tidak lagi membeli kado untuk teman-temannya dan lebih memilih buat sendiri. Menurutnya, meski merepotkan, handmade memiliki nilai sentimenta lebih dibandingkan barang yang dibeli di pasaran.

Di tahun 2008 ada kerabatnya yang menyarankan Martha untuk menjual karyanya di situs jual-beli online, Multiply. Kesan ‘menaruh’ barangnya di Internet terus membekas pada dirinya. Ia masih teringat saat ada pembeli dari luar kota yang mengirim SMS jam 6 pagi untuk membeli barang yang dijualnya. Ia tak menyangka, ada peminat dari hasil kerajinan tangannya.

Martha memulai bisnisnya dengan modal perdana Rp500.000. Setelah sukses dengan produk pertama, ia menambah modal menjadi Rp1,5 juta. Sambil bekerja di salah satu stasiun televisi swasta, ia juga menjalankan bisnis pernak-pernik buatan tangannya yang terus berkembang.

Bisnisnya terus berkembang hingga ia kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja untuk fokus pada bisnis. Di tahun 2010, sembari menjual produk, ia juga aktif menulis di blog yang berisi tutorial handmade buatannya. Seiring dengan perkembangan teknologi, di tahun 2016 ia akhirnya memanfaatkan YouTube untuk berbagi tutorial dengan nama Ideku Handmade.

Selain sebagai sarana untuk berbagi tips, video-nya juga berlaku sebagai media brand awareness produk-produknya, yang otomatis akan membantu meningkatkan penjualan barang-barang handmade-nya. Sejak saat itu, penjualan Ideku Handmade yang bertumpu pada media sosial terus membesar. Kini, ia telah mempekerjakan tujuh orang karyawan. Selain mengandalkan karyawan, Martha sering melibatkan tetangga-tetangganya untuk membantu menjahit, membuat pola, atau mewarnai kain.