Berawal dari membeli jam di luar negeri dengan bahan dasar dari Yogyakarta, membuat Lucky Danna Aria terinspirasi untuk membuat jam kayu asli buatan Indonesia. Di sepanjang tahun 2012 ia melakukan riset tanpa lelah, panggilan ‘gila’ pun pernah ia dapatkan. Namun, berkat usahanya itu, Matoa akhirnya terwujud.

Bermodalkan tabungan sebesar Rp 30 juta, Lucky berusaha melakukan berbagai riset selama kurang lebih setahun. Selama satu tahun ia belajar bagaimana sebuah jam tangan bisa diproduksi dan diaplikasikan pada material yang waktu itu belum pernah dibuat. Menggunakan kayu eboni Makassar dan maple dari Kanada, Lucky akhirnya mampu memproduksi jam tangan kayu. Matoa, adalah nama yang menjadi identitas produksinya.

Tidak hanya itu saja, untuk mempertahankan akar ke-Indonesia-annya, ia selalu menyematkan nama-nama pulau di Indonesia. Hingga saat ini, sudah ada tujuh jenis produk jam tangan kayu dari Matoa, yakni Rote, Sumba, Gili, Moyo, Flores, Alor, dan Sumba.

Ketika ia sudah mewujudkan produk impiannya, masih saja banyak orang yang memandang sebelah mata. Dengan brand baru dan bahan jam tangan yang berbeda dari normalnya, respon konsumen terbilang cukup pasif. Tidak putus asa, Lucky kemudian memutar otak agar produknya bisa dipercaya pasar. Dia kemudian memutuskan untuk memberikan asuransi ganti baru selama satu tahun kepada konsumennya, terkait kerusakan di bagian body jam tangan.

Berkat ide-ide, kegigihan dan kerja kerasnya, jam tangan kayu karya anak bangsa ini telah memproduksi sekitar 400-500 unit jam tangan setiap bulannya. Besarnya reaksi pasar, terkadang membuat Matoa kewalahan dan memasukkan konsumen dalam waiting list.

Ayo share brand lokal favorit Anda disini!