Punya teman maksibar alias makan siang bareng atau ngopi-ngopi?

Saya beruntung punya beberapa teman ngobrol istimewa yang senantiasa memberikan ide-ide dan pencerahan dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi saya mereka adalah rockstar, master jedi atau begawan karena sudah melalui begitu banyak hal dan senantiasa menjadi bagian aktif dari hal-hal keren yang pernah, masih dan akan terjadi. Melalui mereka juga saya bisa berbagi keresahan, kegalauan dan kegemasan yang seringkali saya rasakan mengenai banyak hal. Kalau diperhatikan terdapat 3 topik pembahasan utama: Pertama, hal-hal yang sekedar dibicarakan karena memang sedang ramai dibahas namun jauh diluar kendali kami. Kalau mau tahu contohnya silahkan baca koran halaman pertama yang selalu dipenuhi drama-drama sensasional. Kedua, diskusi skenario “What If” yang lazim dibahas bersamaan dengan kemunculan ide-ide brilian yang memunculkan perubahan diberbagai pelosok bumi. Referensi obrolan ini biasanya berasal dari channel-channel cerdas para nerds, situs internet, aplikasi atau majalah-majalah keren semacam Fast Company, Bloomberg atau Inc. Nah, yang paling penting adalah hal-hal yang dibicarakan karena menyangkut kepedulian dan kebisaan kami – atau sumber keasyikan dan kerisauan kami. Termasuk dalam agenda utama dalam hal ini adalah soal bisnis, tata organisasi, kinerja individu dan pendidikan pada umumnya.

Pembahasan ketiga: bisnis, tata kelola organisasi & kinerja individu tidak terkesan sensasional namun punya dampak luas dan mendalam. Salah satu master jedi @tvrner pernah menyebutkan bahwa diantara sekian juta hubungan pernikahan di Jakarta, terdapat berkali lipat hubungan antar atasan-bawahan dan antar rekan kerja. Jika tidak ditelaah dengan baik maka organisasi bisa berubah wujud jadi neraka bagi penghuninya. Dalam sudut pandang lain, tempat kerja yang tidak dikelola dengan baik beresiko besar tidak saja pada produktivitas, namun kesehatan jiwa anggota organisasi.

There is a BIG problem in our workspace. Yes, a HUGE problem. Sebagian besar tempat kerja hanya dibangun sekedar untuk memenuhi tuntutan strategi bisnis. Kenapa sales harus naik 20%? Soalnya tahun lalu sudah 15%. Kenapa harus pakai absensi? Supaya memastikan kedisiplinan. Kenapa tempat kerja harus dibuat bagaikan rumah burung? Agar karyawan fokus pada pekerjaan. Kenapa harus punya jam kerja? Sudah begitu dari sananya. Dan seterusnya. Dan selainnya.

Sad fact: No more room for human beings, only for human doings. Pekerjaan dan tempat kerja sudah menjelma jadi keharusan normatif yang tidak lagi dipertanyakan, dikaji, apalagi diperbaharui. Manusia tidak lagi dilihat secara istimewa sebagai individu, namun sekedar sebagai alat produksi. Standar kerja, standar perilaku, standar pencapaian mendikte semua kaidah hubungan kerja. Tidak ada lagi kepedulian untuk memanusiakan manusia seutuhnya.

Awesome results are created by organization with awesome people. Tentu tidak masalah jika sekedar ingin menjalani apapun yang standar, mencapai hal-hal biasa yang mudah dilupakan. Namun semua hal-hal keren yang dicapai oleh banyak organisasi keren diseluruh dunia butuh lebih dari sekedar strategi bisnis. Google tidak berarti banyak tanpa peran serta para Googlers. Apa beda Zappos dengan penyedia layanan penjualan online lain – tanpa anggota organisasi yang passionate dan kehadiran Culture Coach?

Kerisauan ini adalah ajakan untuk sama-sama memikirkan ulang cara kita melihat pekerjaan, tata kelola organisasi dan kehidupan. Kegundahan ini adalah colekan bagi yang punya kepedulian untuk menjadikan tempat kerja lebih dari sekedar ruangan namun juga sebagai zona kreasi, rumah karya, taman bermain dan ladang keasyikan. Pujangga hebat Rusia, Fyodor Dostoevsky, dengan indah dan tegas menuliskan sepenggal kalimat soal kerja dan manusia: “Deprived of meaningful work, men and women lose their reason of existence. They go stark, raving mad.” Perhaps now is the time for us to make a difference.

 

Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas
Colek Rene melalui twitternya, @RenneCC
image: getty images