Setelah pada posting kemarin, kita menyinggung sedikit mengenai Singgih S. Kartono dan Spedagi Movement-nya. Sekarang, yuk kenal lebih dekat dengan gerakan pemberdayaan desa menuju desa yang mandiri dan lestari ini!

Spedagi berasal dari kata Sepeda Pagi, sebuah kegiatan yang awalnya dilakukan Singgih untuk menjaga kesehatan. Dengan latar belakangnya sebagai seorang desainer dan kebiasaannya inilah, Singgih tertarik pada desain sepeda. Terinspirasi dengan desain sepeda bambu Craig Calfee dari Amerika, Singgih akhirnya menciptakan sepeda buatannya sendiri, dengan memanfaatkan bambu yang masih melimpah di desa-desa yang ada di Indonesia.

Dengan keahlian produksi kerajinan tangan yang menjadi keahliannya, Singgih memulai pengembangan desain pada tahun 2013 dan memulai produksi pada tahun 2014, yang dibarengi dengan penyempurnaan dalam hal desain dan proses produksnya. Sepeda bambu ini lebih dari sekadar ‘sepeda’ yang memanfaatkan sumber daya bambu di desa, tapi juga sebagai pemicu lahirnya gerakan revitalisasi desa, yaitu Spedagi Movement.

Spedagi Movement adalah gerakan sosial kreatif yang telah berjalan dan menyebarkan kolaborasi lewat gerakan kreativitas revitalisasi desa. Gerakan ini lahir dari pemikiran bahwa bumi kita tidak bisa bertahan tanpa merevitalisasi desa yang berkelanjutan. Lewat aktivitas kreatif, Spedagi Movement diharapkan bisa menarik sumber daya eksternal untuk membantu revitalisasi desa lewat kolaborasi yang menciptakan lebih banyak migrasi untuk kembali ke desa.

Gerakan ini memiliki tujuan untuk membawa desa kembali sebagai harkat dasarnya sebagai komunitas lestari dan mandiri, sekaligus memberikan pemberdayaan agar desa bisa mengembangkan potensinya di luar bidang pertanian, terutama di bidang ekonomi kreatif.