“Be out of the mainstream. I’m out of the mainstream. I enjoy it, who wants to be in the mainstream?” ― Bill Maher

Ahmad Djuhara, seorang arsitek kawakan pernah mengatakan bahwa arsitektur yang hebat dapat dilahirkan karena adanya klien yang hebat. Namun yang perlu dipertanyakan adalah seberapa banyak klien yang hebat itu sudah ada. Semakin banyak klien yang hebat itu ada, maka akan semakin banyak arsitektur yang hebat itu dilahirkan. Semakin banyak arsitektur yang hebat dilahirkan, maka wajah lingkungan hidup sehari-hari akan semakin indah dan menyenangkan untuk dihidupi. Dan akan semakin banyak pula arsitek-arsitek hebat dilahirkan di Indonesia.

Yu Sing, arsitek muda asal Bandung mulai eksplisit menunjukkan peran sosial arsitek.  Sejak awal 2008 lalu, ia merelakan diri untuk membantu desain rumah murah dengan jasa yang benar-benar murah. Dan sejak itu, puluhan keluarga dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua, menghubunginya untuk bertanya soal rumah murah. Ternyata perkiraannya terbukti benar, banyak yang belum terlayani arsitek, banyak yang membutuhkan, dan sangat sayang karena belum banyak arsitek yang terang-terangan mau membantu.

Setelah itu, daya kreasi dan imajinasi Yu Sing terus mengeksplorasi desain-desain untuk rumah dengan biaya terjangkau alias rumah murah. Dia pun lantas menawarkan konsepnya kepada beberapa perusahaan pengembang dan calon klien. Namun, idenya yang di luar mainstream tersebut membuatnya tidak mudah diterima.

Yu Sing mengakui, selama ini dunia arsitektur seolah dijauhkan dari masyarakat kurang mampu. Ada kesan bahwa arsitektur hanya dimonopoli orang-orang kaya yang ingin membangun rumah mewah dan bangunan megah. Padahal menurutnya, murah juga adalah kenikmatan, keindahan, bahkan kemewahan. Makan nasi merah hangat hanya dengan lalapan dan sambal serta ikan peda bakar pada sore hari sewaktu hujan rintik-rintik adalah kenikmatan yang penuh. Kenikmatan dalam kesederhanaan. Tidak semua orang bisa menikmati kenikmatan dalam kesederhanaan.

Setelah menimba ilmu arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 1999, Yu Sing sempat menjadi bagian dari “arsitek biasa” yang memenuhi order klien tentang desain rumah atau bangunan yang diinginkan. Tergerak hatinya, ia kemudian membuka usaha konsultan arsitek sendiri bersama temannya sampai lahirnya Studio Akanoma yang berarti Akar dan Anomali.  Akar merujuk pada makna potensi alam dan persoalan mendasar yang dihadapi manusia. Anomali menggambarkan sosoknya yang tidak ingin larut dalam arus besar (mainstream) dunia arsitektur.

Yu Sing kemudian menuangkan karyanya melalui buku Mimpi Rumah Murah yang banyak mendapatkan respon positif dari masyarakat. Tak jarang ia mendapatkan surat elektronik dari mereka yang ingin didesain rumahnya.  Sebuah rumah di Bandung hampir roboh ketika desain yang ditawarkan Yu Sing ternyata tidak mampu diselesaikan si pemilik akibat kekurangan dana. Yu Sing akhirnya membantu penyelesaian rumah tersebut bersama teman-temannya hingga terkumpul dana Rp 27 Juta melalui website wujudkan.com. Tak jarang, ia juga merogoh kocek sendiri ketika hal yang sama terjadi pada kliennya dari kalangan menengah ke bawah.

Pria kelahiran Bandung, 5 Juli 1976 ini pernah aktif di lembaga nirlaba internasional Habitat for Humanity, yang misinya membantu mewujudkan masyarakat kurang mampu untuk memiliki atau memperbaiki rumah dengan sistem menabung secara berkelompok. Di Indonesia lembaga ini punya slogan “Good Design for Everyone”.

Melalui Studio Akanoma, setiap tahunnya Yu Sing yang dibantu empat stafnya bisa mendapatkan hingga 20 proyek desain dari klien-klien besar. Mimpinya memasyarakatkan arsitektur kini mulai terwujud.

“Harga diri sebetulnya bukan terletak pada kemewahan, bukan terletak pada arsitektur, tetapi pada pengakuan diri yang tercermin pada gaya hidup sehari-hari sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta dan sikap mengasihi sesama manusia yang dikasihi-NYA.” kata Yu Ling.

Kami pun setuju, bagaimana dengan kalian Sahabat DoInc?

 

 

Sumber:
Rumah Yusing
JPNN