Ketika ditanya mengenai kerajinan kain yang ada di Indonesia, pasti sebagian besar dari kita menjawab batik. Ya, batik memang sudah mendunia. Tapi, dengan gugusan pulau-pulau di Nusantara, bukan hanya batik yang bisa menjadi primadona. Itulah yang ingin diubah oleh Annisa Hendrato (Nisa) dan Cendy Mirnaz (Cendy) lewat brand buatan mereka, yaitu Noesa – yang ingin mengangkat tenun indah dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berawal dari liburan panjang keduanya di NTT, mereka merasa heran mengapa tidak menemukan kain yang kualitasnya dinilai cukup baik. Perkenalan mereka dengan tenun NTT dimulai saat mereka membeli buku yang membahas NTT secara lebih mendalam. Di buku dijelaskan bahwa NTT memiliki tenun khas yang menarik perhatian mereka, dari situlah mereka mencari kontak untuk bisa mendapatkan kain tersebut.

Ketika mereka tiba di Momere, mereka menemukan tenun ikat Sikka. Dari ‘jumpa’ pertama itu, mereka berkenalan dengan Bapak Daniel David yang bisa menjelaskan lebih mendalam mengenai tenun sikat. Mereka berdua-pun bisa berkunjung ke tempat produksinya dan mengetahui bahwa tenun ikat diwarnai dengan warna yang langsung berasal dari alam. Dari pengalaman inilah, Nisa dan Cendy  merasa jatuh cinta dengan kain tenun asal NTT ini.

Noesa-pun tercipta di tahun 2014. Mereka mendirikan Noesa untuk membantu pengerajin tenun untuk mendapatkan pasar yang tepat, yaitu orang-orang yang mau membayar harga premium untuk produk handmade yang memakan banyak waktu dalam pembuatannya.

Dengan kolaborasi ini, Noesa meminta pengerajin untuk bisa mengantarkan kualitas, desain dan warna yang menarik. Sebagai contoh, para pengerajin biasanya hanya menggunakan warna merah, biru, dan kuning, tapi Cendy mendorong mereka untuk menggunakan warna lain seperti pink, ungu, abu-abu dan hijau agar lebih menarik minat pasar. Meski meminta warna-warna lain di luar warna biasanya, Noesa berkomitmen untuk selalu menggunakan pewarna alami dalam produksinya. Contohnya, warna kuning didapatkan dari kunyit dan merah dari akar morinda.

Produk yang dihasilkan merupakan perpaduan antara kain tradisional NTT dengan lifestyle anak muda zaman sekarang. Lewat Noesa, kain tenun cantik berubah menjadi tali kamera, dompet, topi, dan sebagainya. Lewat visinya, Noesa menonjolkan art, culture and nature. Selain produk, Noesa rajin terlibat dalam eventworkshop dan diskusi tentang kain tenun. Noesa ingin memperkenalkan tenun dengan cara yang berbeda, yaitu lewat edukasi anak muda yang menekankan bahwa kain Indonesia bukan hanya batik saja.