Telah disinggung sebelumnya, Spedagi Movement yang berawal dari kegiatan bersepeda pagi dan penciptaan sepeda ini memiliki fokus untuk revitalisasi desa, agar desa bisa semakin lestari dan mandiri. Hal ini berdampak pada Indonesia secara keseluruhan karena desa yang lestari merupakan identitas awal bangsa dan kemandirian desa juga cerminan dari keberdayaan bangsa.

Tentunya sebagai sebuah gerakan, Spedagi Movement tidak bisa berhenti di titik penciptaan sepeda. Gerakan ini ingin menjaring kesadaran yang lebih luas di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, Spedagi Movement memiliki beberapa program. Salah satunya adalah sebuah konferensi internasional bertajuk ICVR alias International Converence on Village Revitalization, sebuah event yang diadakan setiap dua tahun sekali yang terfokus pada revitalisasi desa. Aktivitas dalam ICVR antara lain wisata desa, diskusi, presentasi/seminar dan workshop yang melibatkan partisipan lokal dan internasional.

 

Pada konferensi pertamanya yang diadakan pada  16-21 Maret 2014 yang lalu di Temanggung, ICVR menggandeng  International Conference of Design for Sustainability (ICDS) sebuah konferensi tahunan internasional yang memfokuskan diri pada desain berkelanjutan di Jepang. Kolaborasi ini terbentuk karena adanya kesamaan visi, di mana desain yang berkelanjutan memiliki peranan penting dalam revitalisasi desa, seperti contohnya desain sepeda bambu milik Singgih S. Kartono sang pencetus Spedagi Movement. Di tambah lagi Indonesia dan Jepang memiliki permasalahan yang sama, yaitu tingginya urbanisasi sehingga desa jadi terlupakan. Konferensi pertama ini mengusung tema “It’s Time Back to Village” yang membahas potensi desa sebagai tempat yang nyaman untuk tinggal, juga sebagai komunitas yang berkelanjutan, mandiri, dan memiliki struktur sosial yang baik dengan bantuan teknologi dan informasi yang baik.

Melanjutkan kesuksesan ICVR pertama, ICVR kedua-pun dilangsungkan di Desa Ato, Jepang pada September 2016. Singgih S. Kartono, penggagas ICVR mengatakan, konferensi berikutnya tak boleh di tempat yang sama. Bahasan dalam ICVR 2 antara lain tentang desain berkelanjutan, Spedagi, pertanian organik, pengalaman kembali ke desa, desa bambu, kopi dan kehidupan desa, serta pertanian padi di Kalimantan. Pembicara yang hadir antara lain, Singgih S Kartono, Gede Kresna, Muh Darman, Wilfrid A Wasa, Budi Faisal, Lisa Virgiano, Lavinia Elysia, Dwi Utami, dan Sutji Shinto. Dari Jepang Fumikazu Masuda, dan Asuka. Pesertanya ada sekitar 50 orang, yang berasal dari organisasi sipil, mahasiswa, peneliti, desainer, dan praktisi lingkungan. Pada ICVR 2 inilah sepeda bambu Spedagi pertama di Jepang berhasil dirakit dan dinamakan Spedagi Ato.

Singgih mengatakan, mengajak warga desa menyadari kekuatan lokal dan segenap potensi terkadang tak mudah. Tantangan lain, katanya, seringkali warga tak bisa menangkap substansi gagasan. Jadi, perlu pendekatan khusus dan kesabaran membawa mereka nyaman dengan suasana baru, kemudian menjelaskan gagasan.

Yang unik dari ICVR adalah lokasinya di pedesaan, jauh dari hiruk pikuk kota. Meski di desa, ICVR lebih sering menggunakan Bahasa Inggris, selain Bahasa Indonesia dan Jepang. Tak ada pemisah antara lokasi acara di rerumpunan bambu dengan rumah-rumah warga. Kembali ke ketenangan desa, itulah yang ingin ICVR sampaikan pada para peserta konferensi.