Lebih dari sepeda bambu. Itulah yang ingin diraih oleh Spedagi Movement dan Singgih S. Kartono. Hal ini terlihat dari salah satu program Spedagi Movement, yaitu Pasar Papringan yang telah digelar sejak tahun 2015. Pasar Papringan ialah pasar seni yang digelar di bawah rerimbunan bambu di sudut desa. Di lahan seluas 1.000 meter persegi. Bukan hanya pasar yang menjual produk makanan, minuman, suvenir dan kerajinan, pasar ini juga disertai live music. Pasar ini bisa menarik perhatian wisatawan sekitar maupun wisatawan luar daerah. Bila terus digalakkan, tidak menutup kemungkinan pasar ini bisa menjadi destinasi wisata internasional di daerah Temanggung.

Dasar terciptanya pasar ini adalah untuk melestarikan hutan bambu dan potensi desa dari ancaman penggusuran, mendukung bisnis kecil warga desa, menjual produk-produk alami yang diolah secara lokal, meningkatkan kemeriahan lokal dan mini tur bersama Spedagi.

Pasar Papringan dinilai unik karena alat tukar dalam berbelanja tidak menggunakan uang rupiah. Sebelum masuk pasar, uang ditukarkan pada petugas yang bersiaga di depan dan tengah pasar. Mata uang tertulis angka 1 berarti Rp1.000, dan 5 sama dengan Rp5.000, hingga angka berikutnya. Mata uang ini dipapah halus dengan dasar bambu. Untuk yang penasaran, pasar ini hadir tiap 36 hari sekali, yaitu tiap Minggu Wage.

Dalam rangka Ramadan, Pasar Papringan tutup dan kembali hadir pada tanggal 2 Juli 2017.

Untuk lebih jelas mengenai uniknya Pasar Papringan, yuk kita tonton videonya!