Merintis bisnis di luar negeri mungkin tergolong sulit, apalagi jika memasarkan produk dalam negeri yang belum banyak orang di dunia yang mengetahuinya. Namun, tantangan tersebut tidak menyurutkan Rustono, seorang Indonesia yang memberanikan diri untuk memasarkan tempe.

Sebelum hijrah ke Jepang dan memulai bisnisnya, ia mencari tahu pengalaman teman-teman yang pernah tinggal di sana. Mereka memberi Rustono semangat, dan berpesan bahwa janganlah ia menjadi salaryman (pekerja kantoran) karena waktu yang dimilikinya hanya akan habis di pekerjaan, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berwirausaha.

Perjalanannya membuat tempe di Jepang tidak berjalan lancar. Rustono yang pada saat itu  harus menghidupi dirinya dan keluarga, bekerja selama 3 tahun di pabrik roti. Dari pekerjaannya itulah ia mendapatkan ilmu mengenai cara memproduksi makanan di Jepang yang terkenal rumit. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk membuat tempe. Usahanya ternyata tidak berbuah manis. Dari waktu 4 bulan produksi, tempenya tidak ada yang jadi, karena pada saat itu ia belum mengerti cara memproduksi yang benar.

Rustono-pun meminta izin pada sang istri Tsuruko Kuzumoto untuk pulang ke Indonesia dan mendalami cara memproduksi tempe yang benar. Pulang ke Indonesia, ia mencari pengerajin tempe yang bersedia untuk mengajarinya. Dari 100 orang pengerajin tempe hanya 60 orang yang bersedia mengajari, karena sisanya takut ilmunya dicuri.

Peranan komunitas warga Indonesia di Jepang menjadi pintu bagi Rustono untuk membuka pabrik dan bisa memproduksi tempenya secara massal. Mereka bersedia membeli tempe produksi Rustono dan mengenalkannya pada rekan-rekannya, sehingga modal yang dibutuhkan Rustono untuk membuka pabrik bisa terwujud. Setelah berhasil mengumpulkan dana, membangun pabrik, dan mengajukan izin produksi, ia baru berani menawarkan kepada orang Jepang. Melalui cara yang sederhana, dengan mengetuk pintu rumah sakit dan katering. Tidak meminta untuk membeli, tapi ia meminta mereka untuk mencoba.

Rustono mengalami banyak penolakan dari orang Jepang karena mereka masih tidak yakin. Hingga pada suatu hari di musim dingin, ia tengah membangun lantai dua pabrik tempe miliknya di musim dingin dengan salju yang turun dengan lebat. Ada seseorang yang berteriak bahwa apa yang ia lakukan itu berbahaya dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Rustono menjawab bahwa ia sedang membangun impian. Keesokan harinya, orang tersebut kembali lagi, ternyata ia adalah seorang wartawan yang ingin meliput ‘mimpi’ Rustono. Sejak saat itu, orang Jepang mengenalnya dan menghargai usahanya membangun mimpi. Mereka-pun akhirnya tertarik untuk terlibat dalam membangun mimpi Rustono dengan Rusto’s Tempe.

Alasannya memilih tempe sebagai medium usaha adalah karena ia ahli dalam mengolahnya. Ditambah banyaknya kedelai berkualitas yang ada di Jepang, sehingga menjadi inspirasi untuknya untuk membuat tempe, makanan khas Indonesia.

Menurut Rustono, tips untuk membangun bisnis di mancanegara adalah ‘pegang teguh impian’, ‘gunakan hati saat membangunnya’, dan ‘mulailah dengan menggunakan niat’. Setelah terbiasa dengan usaha tempe di tempat dengan suhu yang naik turun, terbentuk hubungan antara hati dengan tempe. Itulah yang dia ajarkan kepada sang anak, Noemi Kuzumoto, yang sekarang mulai menjalankan usaha tempe ini.  Apa yang kita buat dicerna oleh para pelanggan menjadi gizi yang sangat baik. Karenanya, kita harus membuatnya dengan hati yang baik.

Saat ini Rusto’s Tempe telah menjadi konsumsi dalam pesawat. Bukan itu saja, kini penjuru Eropa pun menghubunginya untuk membantu mereka dalam membangun impian bersama tempe.

 

Dengan impian, niat, dan kerja keras semua orang bisa mewujudkan mimpinya, bahkan di saat jauh dari Indonesia. Bagaimana dengan kamu?