Minggu ini kita sudah membahas #SpedagiMovement, sebuah gerakan sosial yang memprakarsai revitalisasi desa dengan memberdayakan penduduk dan potensinya. Berkali-kali juga nama Singgih S. Kartono disebut sebagai pemrakarsa gerakan ini. Yuk, kita berkenalan lebih jauh dengan beliau.

Singgih S. Kartono lulus dari Institut Teknologi Bandung, jurusan Desain Produk. Beliau percaya bahwa desa yang lestari dan mandiri adalah masa depan Indonesia yang berkelanjutan. Karena itulah, pada tahun 1992 beliau kembali ke desa dan memulai proyek radio kayu yang diberi nama Magno, di desanya, Kandangan, Temanggung, Indonesia.

Magno yang kini terkenal secara internasional membuahkannya beberapa penghargaan desain internasional yang prestigius, termasuk termasuk penghargaan dari London Design Museum. Tidak berhenti di Radio Magno, beliau memulai Spedagi Movement yang dimulainya dari pembuatan sepeda bambu. Ia percaya bahwa gerakan ini akan membantu desa dalam memecahkan masalah utamanya, yaitu kurangnya individu yang bisa berpikir secara strategis dan sumber daya eksternal untuk memecahkan masalah pedesaan dan mengoptimalkan potensinya.

Dalam skala lokal, gerakan ini berhasil menjalankan produksi lokal sepeda bambu, homestay, tur sepeda, dan pasar kaget yang memasarkan produk lokal yang dikenal dengan nama Papringan. Kepercayaan beliau bahwa desa adalah fondasi dari dunia yang berkelanjutan, membuat gerakan ini juga menginisiasi dua ICVR (International Conference on Village Revitalization) di Indonesia dan Jepang.

Semangat Singgih adalah untuk meneruskan mimpinya merevitalisasi kehidupan di desa dengan menginspirasi lewat komunitas-komunitas serupa di Indonesia dan dunia.