Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah, dan tahun ini highlight dari Hari Peduli Sampah adalah limbah plastik. Dalam artikel kali ini, ada sebuah sharing yang disadur ulang dari seorang pemilik bisnis Daur Ulang Plastik (DUP) bernama Ilham Maulana yang baru memulai usahanya sekitar 8 bulan lalu.

Berawal dari ketidaksukaan sang ibu yang melihatnya berbisnis di bidang fashion dan kuliner, juga pekerjaan lainnya di salah satu production house di Bandung yang membuatnya jarang pulang, lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University ini akhirnya dipanggil untuk ‘pulang kampung-bangun kampung’.

Ilham diutus untuk melihat potensi di kampungnya yang berada di daerah Weleri, Jawa Tengah. Akhirnya, setelah menjalani proses perijinan yang cukup rumit, diputuskanlah pembangunan pabrik ala kadarnya untuk memulai aktivitas DUP.

Ia pun mulai membeli bahan baku sampah dari lapak besar. Di sisi lain ia juga mengajari ibu-ibu kelurahan untuk memisahkan, membersihkan, hingga membuat bahan baku tersebut menjadi “siap giling”. Tugas menyortir bahan baku ini tergantung pada jenis plastik yang didapatkan. Ada pet (botol), pp (gelas), ember, hd (botol oli, shampo dll), ld (infus).

Biaya yang ia berikan berkisar 250 hingga 1500 rupiah/kilo tergantung jenis yang disortir. Per harinya, rata-rata mereka mampu menyortir sekitar 25 kg hingga 1 ton, berdasarkan dari tingkat pengalaman dan jenis plastiknya. Setelah disortir, plastic-plastik tersebut digiling menggunakan mesin pencacah yang menghasilkan plastik yang berbentuk seperti kaca yang pecah.

Tak diduga, selama satu bulan beroperasi Ilham mengalami kerugian besar.

Penyebabnya adalah kekeliruan dalam memilih tempat membeli bahan baku sampah. Memang dari lapak besar, ia bisa mendapatkan bahan baku sebanyak 5 ton dalam waktu kurang dari 1-2 minggu. Namun, harga yang diberikan oleh lapak besar juga terhitung fantastis dan menyebabkan kerugian.

Untuk keluar dari permasalahan ini, ia menempuh cara untuk memilah beberapa lapak yang memberikan harga bersahabat dan menjalin relasi dengan bidang usaha yang menghasilkan limbah plastik. Menurut penemuannya, ternyata banyak institusi yang hanya membuang dan membakar limbah tersebut. Akhirnya, pada saat ini 60% dari bahan baku yang didapatkannya berasal dari tempat usaha tersebut dan sisanya dari lapak-lapak yang ia bina.

Lolos dari cobaan pertama dalam berwirausaha, datang lagi cobaan berikutnya. Harga minyak yang jatuh ikut menyeret harga DUP. Mengingat hasil DUP dipakai sebagai pengganti dari bahan baku plastik yang dibuat dari minyak mentah. Mereka yang mengandalkan lapak rongsok hanya beberapa yang bertahan. Banyak yang menimbun, tutup, dan bangkrut. Bulan pertama modal 30 juta mampu berputar setiap bulannya dan menghasilkan 5 ton bahan jadi. Sekarang, bisa memutar 24 juta saja sudah lumayan. Baru tahun lalu dapat untung, hari ini bisa menutupi biaya operasional saja sudah sangat bagus.

Ia berpendapat para pelaku DUP bisa saja menekan harga beli, namun disisi lain mereka bukan hanya business oriented. Ia dan rekan-rekan juga memikirkan bagaimana nasib pemulung nantinya, juga bagaimana hidup para pengumpul limbah dan berbagai pihak penyokong bisnis ini.

Menurutnya modal utama yang dibuthkan dalam bisnis ini sebenarnya sederhana, yaitu mental baja. “Anda pintar dalam perhitungan, tidak banyak menolong karena bahan baku yang kita terima tidak dapat di prediksi. Walau Anda memiliki segudang relasi pemilik bahan baku, akan ada saatnya pesaing lain menghancurkan kita dengan menaikkan harga bahan baku. Modal Anda banyak? Tunggu sampai Anda menyadari betapa meruginya Anda.”

Hingga hari ini, ia masih terus memutarkan modal. Setidaknya ketika ia mendaur ulang bahan baku 5 ton, maka di setiap kota terdapat 300-600 ton sampah plastik yang di daur ulang, karena di setiap kota lebih kurang terdapat minimal 3-20 pabrik daur ulang plastik. Dari 5 ton sampah, setidaknya ia ikut mengurangi jumlah pengangguran dan angka kriminalitas karena tenaga kerja yang dibutuhkan dapat mencapai 10 orang. Ia menganggap meski masih terbilang kecil, justru disitulah tantangannya.

Kesimpulannya, jangan tergiur oleh banyaknya laporan jutawan sampah, dari 100 cerita pabrik yang beroperasi, mungkin hanya 1 yang mampu mendulang kesuksesan. Karena segala bidang bisnis tergantung pada individu nya. Jangan takut gagal dan jangan malas belajar. Kesuksesan tidak diperoleh dalam semalam. Terlebih lagi, kebanyakan dari kalangan yang membuka DUP tidak mau ribet, sehingga usaha mereka tidak bertahan lama. Meskipun begitu banyak pula nama – nama besar yang berhasil mencetakkan prestasi, contohnya Hendra Kurniawan, Indra Novint, dan Saut Marpaung.

Sumber: Ilham Maulana