Berapa banyak yang mengenal prinsip ekonomi yang sudah kita pelajari ketika kelas satu SMA? Prinsip tersebut kurang lebih berbunyi seperti ini: mengeluarkan modal sesedikitnya dan mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Selama bertahun-tahun banyak dari kita yang percaya bahwa hal inilah yang dapat membebaskan kita dari berbagai permasalahan perekonomian, hingga akhirnya ketidakpedulian kita menimbulkan banyak masalah bagi planet ini. Sebut saja sampah, masalah sosial dan masih banyak lagi. Para pelaku bisnis banyak mendapat sorotan dari para pecinta lingkungan ataupun Lembaga Kemanusiaan yang menyoroti ketidakadilan bagi buruh.

Mungkinkah saatnya sistem ekonomi beralih?

Ketika kini program CSR (Corporate Social Responsibilites) dianggap hanya seperti event tahunan untuk ‘baik-baik-an’ saja dengan tetap berbalut iklan dan perbaikan citra, muncullah sebuah pemahaman baru, bisnis seharusnya didirikan bukan untuk mengambil keuntungan, namun untuk menjawab dan menawarkan solusi bagi permasalahan yang tersebar di bumi. Keuntungan adlaah bahan bakar agar bisnis tetap berkelanjutan.

Biasanya bisnis dengan gerakan sosial lahir ketika melihat situasi yang membutuhkan perubahan secara langsung. Beberapa tokoh seperti Muhammad Yunus, seorang dosen di Bangladesh memutuskan untuk terjun ke masyarakat dan melihat ternyata praktek lintah darat-lah penyebab terbesar lingkaran kemiskinan yang tiada habisnya. Ia kemudian melunasi hutang-hutang masyarakat dari kantongnya sendiri kemudian mendirikan bank untuk kaun miskin yang sekarang dikenal dengan istilah microfinance.

Mari temui Lufa Farm, sebuah perusahaan yang memanfaatkan bagian atas gedung sebagai lahan pertanian. Mereka memanfaatkan sistem hidroponik dan sistem irigasi yang hemat serta mengandalkan air hujan sehingga tidak menghabiskan persediaan air kota. Mohamed Hage, president dari Lufa Farm memiliki cita-cita yang sederhana, yaitu mengubah pola makan kita dengan mendekatkan sumber pertanian dengan konsumen sehingga nutrisi dan kualitasnya tetap terjaga.

Kemudian ada BLISS, sebuah bisnis aksesoris fashion wanita yang merupakan kependekan dari “Business and Life Skills School” yang menyediakan kurikulum tentang entrepreneurship bagi para perempuan Pakistan, tujuan akhir dari perusahaan ini adalah mendorong para perempuan khususnya di Pakistan untuk akhirnya memiliki perusahaannya sendiri. BLISS memiliki tagline yang mewakili inti bisnis mereka “handbags with a heart”.

Lalu, siapa yang tidak kenal Blake Mycoskie dengan sebuah sepatu bermerk TOMS yang merupakan kependekan dari Tomorrow Shoes. Semangat berbagi yang berada dibelakang Toms yang akhirnya membawa produk ini mendunia dan menjadi sebuah gerakan. Blake membuat program One for One, di mana dengan membeli sepasang sepatu Toms maka kita telah membantu anak-anak di Argentina untuk memiliki sepatu mereka.

Ada sebuah daya magis yang dicipatakan dari memberi. Manusia kini makin menyadari ketika mereka dapat memberikan makna serta kontribusi kepada dunia, sebuah rasa bahagia yang tidak bisa dibeli adalah ganjarannya.

Semangat-semangat untuk memberikan perubahan dan dampak pada lingkungan serta sosial seperti inilah yang ingin kami temukan pada anak-anak muda yang kreatif serta berani berinovasi dalam #Project25. Kami percaya, perubahan dapat dilakukan oleh siapapun, makin dini kita mengasah dan dapat berpikir how to solve something, makin dini pula kita menjadi manusia yang bermakna bagi planet ini.

Siapa yang setuju?