Sama seperti banyak orang, saya punya banyak harapan,serta lebih banyak lagi keinginan dan mimpi-mimpi. Mungkin ini alasan kenapa saya mendirikan setiap usaha dan inisiatif sejak dulu sampai sekarang. Bisa juga ini alas an saya memilih untuk bekerja sendiri dan berkarya sebagai seorang wiraswasta. Sama seperti anda yang tengah membaca kolom ini, saya juga punya ketakutan, kegalauan dan kegelisahan dalam setiap langkah yang harus dipilih. Namun berhubung sudah kepalang basah menikmati setiap keberhasilan (dan lebih sering dari itu, kegagalan) maka resiko gagal masih lebih menarik daripada resiko tidak melakukan apa-apa. Itu pendapat pribadi yang perlu dimaknai dengan hati-hati lho! Sepanjang ingatan samar-samar, saya pernah mendirikan atau menjadi bagian dari kurang lebih 21 usaha / inisiatif – ini masih belum menghitung usaha partikelir kecil-kecilan sebagai penyedia layanan titip-beli-antar buku teks atau jasa asistensi pembuatan skripsi saat kuliah dulu. Sebelum anda menduga tulisan ini sebagai ajang tepuk dada, saya perlu menyampaikan kalau dari 21usaha tadi sekarang tersisa hanya 5 yang masih berjalan. Sisanya? Sebagian besar mati sebelum berkembang, selain ada juga yang bangkrut atau mati suri. Takut? Sama sekali tidak. Sesal? Ada beberapa penyesalan. Bangga? Belum.

Apakah memang kehidupan entrepreneur harus selalu diwarnai dinamika kegagalan dengan rasio mengerikan seperti ini? Jawabannya tertera dalam Harvard Business Review (HBR) terbaru edisi Mei 2013 pemberian teman saya, @donipriliandi. Dalam sebuah artikel HBR disebutkan kalau kegagalan startup secara umum pada semua bidang kegiatan di Amerika Serikat adalah sekitar 75%. Bisa dibayangkan berapa banyak uang, waktu dan energi terbuang untuk sebuah proses pembelajaran menjadi entrepreneur. Celakanya angka tersebut cenderung memburuk belakangan ini. Artinya, entrepreneur yang memulai usaha seringkali melakukan kesalahan yang sama dengan entrepreneur-entrepreneur lain sebelumnya. Atau lebih berbahaya lagi, masih terlalu banyak entrepreneur melakukan kesalahan sama secara berulang. Termasuk saya!

Fool me once, shame on you – fool me twice, shame on me. Sama sekali bukan upaya mengasihani diri, namun jika ada penyesalan maka hal tersebut adalah kesombongan karena hanya (mau) mendengar “intuisi” diri dan keyakinan mutlak tak berdasar yang tidak diiringi keberanian untuk menguji dan mengkaji setiap ide bisnis yang muncul SEBELUM melempar ke pasar.

It is extremely tough to think beyond our own conditioning. Apa yang harus diuji? Semua asumsi-asumsi yang muncul dalam proses perencanaan usaha/pembuatan produk. Kenapa harus dikaji? Karena bisa jadi (baca: seringkali) ide yang teramat sangat bagus untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat- sama sekali tidak didasari oleh kebutuhan mendasar calon pengguna / konsumen.

Business idea is worthless, validated business idea is worthy!Lean StartUp Mechine. Didasari kepedulian agar entrepreneur pemula dapat menarik pelajaran langsung dan segera dari para entrepreneur (lebih) senior dipelosok Indonesia & dunia, maka bersama sahabat saya @Handoko_H bersama kawan-kawan lain, kami mengusung  #Project25. Singkatnya, inisiatif ini adalah sebuah platform akselerator bagi entrepreneur muda untuk merealisasikan serta memasarkan produk/komoditi dengan tujuan kebaikan bersama (baca: bukan sekedar cari profit). Pada saat yang sama, #Project25 berharap bisa memperbaiki prosentase keberhasilan melalui serangkaian proses pengujian, pengkajian dan percobaan yang mendasar, secara cermat serta berkesinambungan – sebuah metodologi keren yang kami pinjam dari Lean StartUp Machine. Silahkan merespon ajakan ini dengan menyimak detailnya di www.doinc.org.

Belakangan saya menyadari kalau pelajaran terpenting dari semua kegagalan dan keberhasilan selama ini adalah kesabaran untuk lebih sedikit bicara, lebih banyak menyimak dan terus berupaya jadi sedikit lebih baik – untuk kebaikan bersama. Entrepreneurial life is a calling – the future begins the day you do something about this.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas

Colek Rene melalui twitternya, @RenneCC

gambar: http://www.hqwalls.com/2012/02/soap-bubbles-wallpapers-1920×1200.html