Terlahir sebagai anak dari pasangan yang memiliki kesulitan ekonomi tidak membuat William Tanuwijaya, pemuda kelahiran Pematangsiantar kecil hati. Kedua orangtuanya memahami bahwa pendidikan adalah modal penting bagi William untuk mengangkat nasibnya, keduanya-pun tak ragu mengirim putera mereka untuk merantau berkuliah di Jakarta.

Namun sayang, di awal semester William berkuliah sang ayah jatuh sakit. Saat itulah, William memutuskan untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa bantuan orangtua dengan menjadi penjaga warnet di dekat kampus. Pekerjaan inilah yang membuatnya menyadari, bahwa internet memiliki potensi tanpa batas untuk membuat siapapun menjadi sukses.

Setelah lulus kuliah, niatnya untuk bekerja di Google harus surut karena pada saat itu Google masih belum membuka cabang di Indonesia. Ia pun bekerja untuk sebuah kantor  sebagai software engineer. Menjadi software engineer bukanlah satu-satunya pekerjaan yang ia lakoni. Sepulang kerja, ia masih disibukkan membangun sebuah situs untuk usaha kecil dan menengah. Di saat yang sama, kepopuleran belanja online lewat media sosial sedang naik. Dari situ, William menyadari bahwa kebutuhan masyarakat akan belanja online sangatlah besar. Tetapi, belum ada platform belanja online yang aman untuk memenuhi hal tersebut.

Ide membuat marketplace-pun dibuahkannya, namun ia memiliki kendala di mana ia tidak memiliki dana untuk membangun marketplace impiannya. Lewat bantuan atasannya, William diperkenalkan dengan beberapa investor namun belum ada investor yang yakin dengan ide William karena belum ada contoh marketplace yang sukses di Indonesia. Malah, ia mendapatkan ‘pukulan’ lewat seorang investor yang mengatakan impiannya terlalu tinggi.

Untungnya hal itu tidak membuatnya patah semangat dan mengubahnya menjadi tantangan. Di tahun 2010 banyak investor luar negeri yang datang ke Indonesia. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh William. Namun, karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang kurang memadai, William gagal untuk menyakinkan para investor tersebut. Kesempatan justru datang dari investor Jepang yang juga tidak memiliki bahasa Inggris yang baik, tapi ia memahami ide marketplace dari William. Dari situlah semuanya dimulai.

Tidak mau terulang kembali pengalaman buruknya karena tidak bisa berbahasa Inggris, William mulai serius untuk mempelajari bahasa Inggris, sekaligus membangun produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Setelah itu, William dapat menarik banyak investor dan mendapatkan pendanaan sebesar 100 juta dollar. Dari pendanaan tersebut, William berhasil membangun Tokopedia dan membuat Tokopedia menjadi salah satu marketplace besar di Indonesia.