Setiap proses adalah pembelajaran. Itulah prinsip yang dipegang Wilson Tirta, anak berusia 15 tahun yang lahir di Surabaya, 23 Maret 2002. Wilson mengawali bisnisnya atas dasar ketidaksengajaan. Tepatnya, saat dia masih duduk di kelas 5 SD. Karena tidak membawa uang saku kala itu, Wilson iseng menyewakan pensil kepada teman-temannya. Tak disangka, banyak teman yang tertarik menyewa pensil yang sebelumnya telah diserut lancip siap pakai itu. Dari penyewaan itu, Wilson mendapat untung Rp 5.000. Wilson menjelaskan, semangat untuk serius berbisnisnya baru dilakukan saat duduk di bangku kelas VII SMP.

Membangun  Bisnis Camilan Udang Garang

 Wilson sebelumnya ikut mendengar curhatan salah seorang sahabat sang ayah, Willy Tamin. Beliau mengeluhkan omzet bisnis olahan udangnya yang menurun. Mendengar itu, secara iseng, Wilson menawarkan diri untuk membantu menjualkan. Siapa sangka, sahabat sang ayah memberikan kesempatan kepadanya. Kesempatan awal tersebut langsung dimanfaatkan Wilson untuk tancap gas menjual produk itu. Pertama, di lingkungan teman-teman sekolahnya. Tidak membuahkan banyak hasil, dia malah panen cibiran.

Rasa malu yang muncul tersebut tidak dibiarkannya mengendap dalam perasaan. Jalan lain ditempuhnya. Yakni, berjualan dari toko ke toko. Namun, masalah lain muncul. Beberapa toko mengeluhkan kualitas produk dan masalah pengemasan. Banyak toko yang complain karena barang rusak sebelum terjual dan kemasan yang mudah ringsek dan akhirnya barang dikembalikan. Tidak mau dirundung rugi, bermodalkan bantuan seseorang teman yang jago desain grafis, Wilson membuat perubahan dalam kemasannya. Dari yang awalnya tidak menarik, dia ubah menjadi merah terang. Model bungkusnya pun dibuat dengan sangat menarik dan cocok untuk kalangan remaja.

Setelah desainnya dirasa cocok, pemasaran dipikirkan secara matang. Jenuh ditolak dan pemasaran yang terbatas membuat Wilson banting setir dengan memasarkan produk melalui online.

Pertengahan 2015, bisnis itu ditekuni. Bermodal akun Twitter, Facebook, dan Instagram. Perlahan dia mendapatkan berderet-deret pesanan dari pembeli. Meski produknya sekarang laku keras, kondisi tersebut tidak membuat Wilson cepat puas. Melalui pertemanannya dengan para Buruh Migran Indonesia (BMI) via media sosial, cemilannya secara bertahap merambah ke luar negeri. Misalnya Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Wilson mengaku sangat terbantu dengan koneksi yang dijalinnya bersama para pejuang devisa negara itu.

Menjadi Produser

“Aku suka dunia fotografi. Basic ini membuat aku tertarik bikin film,” itulah yang dikatakan Wilson. Keakraban Wilson dengan kamera foto bukan instan. Ketika masih balita, dia sudah menjadi model. Kegemarannya memotret dioptimalkan dengan menjuarai berbagai lomba fotografi. Dalam perkembangnnya, Wilson bertemu Girry Pratama, sepupu dari sang mama. Girry menawari Wilson untuk sharing modal memproduksi film. Keduanya sama-sama menjadi produser eksekutif.

Wilson memastikan, produk film pertamanya digarap serius. Beberapa pihak dilibatkan dalam film “Ular Tangga” antaranya Tya Subiakto untuk mengurus scoring film, sutradara Arie Aziz, DOP Patrick Lavaud, dan lain-lain. dan modal dari pembuatan film itu di hasilkan dari keuntungan bisnis property dan bisnis-bisnis lainnya.