Sahabat saya Roni @pramaditia memang paling suka berbagi cerita tentang pengalaman, temuan dan observasi unik. Belum lama ini dia didaulat oleh @TEDxJakarta untuk menceritakan penemuan tanpa sengaja saat sedang berkunjung ke daerah Gunung Puntang di wilayah Bandung Selatan. Cerita singkatnya begini: hampir 100 tahun lalu di daerah pegunungan Jawa Barat tersebut pernah berdiri sebuah stasiun radio nirkabel yang mampu menjalin komunikasi antara Indonesia dan negeri Belanda. Namanya Stasiun Radio Malabar yang pada masanya sudah mendayagunakan teknologi telekomunikasi paling canggih di dunia. Konon lirik lagu “Halo-halo Bandung” karya Ismail Marzuki terinspirasi dari Radio Malabar. Sekarang, hampir-hampir tidak ada yang tersisa dari stasiun tersebut selain reruntuhan dan puing-puing. Saat ini, kisah pencapaian hebat Radio Malabar terlupakan jika tidak ditemukan kembali oleh orang-orang dengan rasa penasaran dan keinginan berbagi.Terkait hal ini, Roni menyatakan bahwa walaupun cerita dituturkan olehnya namun dia tidak pernah merasa memilikinya. Menceritakan bukan sekedar soal berbagi atau member namun lebih esensial dari itu adalah soal mengembalikan/memulangkan cerita, pengetahuan dan informasi – kembali pada ingatan kolektif manusia.

Memori manusia memang bisa mengingat banyak hal – namun pasti jauh lebih banyak hal lain yang terlupakan. Apapun yang kita ketahui tentang apapun tidak akan pernah sebanding dengan segala hal yang kita lupakan atau tidak pernah ketahui. Nggak percaya? Coba ingat-ingat kejadian kemarin? Bagaimana dengan minggu lalu, bulan lalu atau tahun lalu? Apapun yang diingat pada saat membaca kolom ini tidak lebih dari persepsi subyektif atas peristiwa yang pernah terjadi. Memori kolektif juga tidak lebih baik daripada memori pribadi. Kelupaan membentuk kealpaan. Dan kealpaan berujung pada ketidakpedulian. Semakin banyak hal yang dilupakan secara kolektif, semakin meluas ketidakpedulian dalam kehidupan bermasyarakat.

How can you care if you don’t remember about it? Lupa kolektif. Ini alasan kenapa kasus-kasus korupsi masih saja terus terjadi. Penjelasan yang sama atas pertanyaan kenapa kejahatan, kemiskinan, pemiskinan, kebodohan dan pembodohan senantiasa terus berulang. Satu-satunya cara untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan memulihkan ingatan kolektif. Bukan dengan hipnotis atau cara-cara rumit lain, lho. Mudah saja sebenarnya: Seandainya kita semua bersedia untuk menyimak lebih banyak dan lebih sering bercerita. Lebih banyak mengalami sehingga lebih pasti mengingat. Dan juga lebih banyak bertindak sehingga lebih besar kepedulian.

Giving is about charity – giving back is about fairness & justice. Manusia secara alamiah cenderung senang memberi – sepanjang tidak terlalu membebani diri sendiri. Ini mendasari konsep beramal, berbagi dan berbuat baik. Penetapan bahwa individu, organisasi dan perusahaan harus peduli cenderung semakin lazim  – walaupun masih juga belum memadai. Khusus untuk Indonesia bahkan sudah diratifikasi dalam perundangan yang mengatur tanggung jawab sosial. Pada intinya, negara mewajibkan organisasi untuk peduli. Pertanyaan sekarang: apakah anda, saya dan kita sudah (lebih) peduli?

Nobody really care until they know you do. Ditengah kemajuan teknologi yang percepatannya dalam 30 tahun terakhir jauh melebihi percepatan saat 3000 tahun pertama keberadaan manusia, faktanya: separuh penduduk bumi masih hidup dengan kurang dari USD2 per hari. Diantara peningkatan akumulasi kekayaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, masih ada 1 milyar penduduk bumi yang tidak punya akses air bersih, layanan kesehatan, terlebih pendidikan.

Apakah seseorang memilih untuk member atau berbagi itu sepenuhnya pilihan pribadi. Bukan cuma sekedar soal uang – namun lebih penting dari itu adalah soal waktu, perhatian dan kepedulian. Motivasi member pun bisa beragam dan tidak terlampau penting. Hal terpenting adalah kesadaran bahwa apapun yang kita pikir kita berikan, donasikan, kontribusikan – tidaklah pernah milik kita sepenuhnya. Kita sekedar mengembalikannya pada alam semesta. Time to give back; it’s never yours in the first place – Winston Churchill memang benar saat beliau mengatakan kutipan ini: “We make a living by what we get, but we make a life by what we give (back)