Kapan anda lahir? Pada dekade mana anda mulai beranjak dewasa? Apakah jawaban atas dua pertanyaan ini punya pengaruh terhadap cara anda memandang pekerjaan, karier, bisnis & hidup? Pernah dengar istilah Generation X? Istilah yang dipopulerkan oleh Douglas Coupland ini merujuk pada kelompok orang yang mencapai awal kedewasaan pada akhir dekade 80an atau awal 90an. Karakteristik paling utama Generation X adalah sifat individualistik, ambisius, fleksibel. Gen-X punya motto: bekerja untuk hidup dan bukan sebaliknya. Istilah “See you at the top” paling relevan untuk teman-teman dari generasi ini. Bagaimana dengan Generation Y? Kalau ini adalah sebutan bagi anak-anak para baby boomers dan mencapai kedewasaan pada akhir milenia tahun 2000. Mereka adalah kelompok yang sangat terdidik, penyuka musik, teknologi dan kebebasan mutlak. Mereka tidak keberatan bekerja namun menolak menjadikan pekerjaan sebagai sentral kehidupan. Motto utama Gen-Y: “Life is about enjoyment”. Apakah anda termasuk generation X atau Y? Atau mungkin bukan keduanya.

Dalam sebuah diskusi dengan sahabat saya @yoris beberapa waktu lalu, saya diperkenalkan dengan istilah Generation Flux yang pernah jadi pembahasan panjang lebar di majalah keren FastCompany. Berbeda dengan Gen-X atau Gen-Y yang bersifat demografis, Gen-Flux cenderung psikografis. Penetapannya bukan berdasarkan tahun kelahiran atau kapan mencapai tahap kedewasaan, namun lebih pada penetapan cara pandang mengenai pekerjaan, bisnis, karier dan hidup. Gen-Flux tidak terbebani oleh keharusan punya sebutan karyawan, freelancer, konsultan atau entrepreneur – semua julukan itu sama sekali tidak penting, bahkan irelevan. Gen-Flux lebih fokus terhadap impact dan kontribusi yang diberikan dalam kapasitas apapun yang dijalani. Sambil berusaha terus memahami artinya, @yoris dan saya merasakan kecocokan dan kenyamanan dalam melihat Gen-Flux sebagai cermin diri. Apakah kami Gen-Flux? Bagaimana dengan anda?

Gen-Flux: Enjoyment is about the impact of our presence & existence. Kelompok Gen-Flux tidak mau bekerja sekedarnya atau sekedar bekerja demi mendapatkan uang atau atribut lain. Sebaliknya, mereka perlu punya keyakinan penuh atas tujuan & peruntukan dari setiap kegiatan yang dijalani.

Gen-Flux is not about affiliation but connection & contribution. Gen-Flux bisa saja bekerja dengan satu organisasi atau lebih dalam satu waktu dengan kesepakan semua pihak. Bukan berarti tidak fokus, sebaliknya, mereka sangat tahu peran, kapasitas dan kepiawaian diri. Lebih jauh lagi, mereka juga tahu persis apa yang dibutuhkan dari mereka. Apakah kontribusi keren hanya bisa diberikan dalam kapasitas sebagai karyawan? Apakah harus menyandang gelar entrepreneur dulu sebelum bisa benar2 berkontribusi?

The most important tool for Gen-Flux is the ability to acquire new skills. Saya jadi teringat cerita sahabat saya @mrtampi yang belum lama ini mengakhiri profesi sebagai bankir. Usia pensiun masih jauh namun dia memutuskan untuk memulai tahap kehidupan baru sebagai penasihat keuangan pribadi & perusahaan, investor, public speaker, radio host dan banyak aktivitas lain dengan beragam rekan usaha. Mungkin @mrtampi tanpa sadar sedang menjajaki hidup sebagai Gen-Flux Indonesia.

Gen-Flux tidak untuk semua orang, ini lumrah saja. Namun semua organisasi dan individu perlu memahami cara berinteraksi dengan Gen-Flux dan memanfaatkan kehadiran mereka. Gen-Flux is about the willingness – or enjoyment – to embrace uncertainty & instability. They are your best allies in the uncertain and unstable business environment. Inter spem et metum – Mvlti svnt vocati, pavci vero electi.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas.