Ingin bukti bahwa budaya dan artefak budaya punya kekuatan dahsyat bagi bangsa Indonesia? Gonjang ganjing klaim budaya Indonesia selalu menuai reaksi emosi yang membutakan mata dan pikiran. Serta merta dengan dahsyatnya kita menjadi seakan bersatu karena merasa senasib menjadi bangsa yang teraniaya. Sayangnya kekuatan ini hanya ditunjukan secara reaktif dan sesaat. Ia tidak menjadikan jengah dan belum berubah menjadi kekuatan yang melahirkan sikap cerdas, misalnya budaya dan artefak budaya Indonesia yang makin diminati dan dihargai oleh bangsanya atau ‘diopeni’ secara lebih mendalam untuk munculkan kebaruan dan nilai-nilai.

Tanpa sadar kita luput melihat lanskap kegetiran yang tengah mendera budaya dan artefak budaya Indonesia sehingga abai mengawal mereka dan gagal menunjukkan kepemilikan yang sahih dengan perlakuan. Kita tidak mengetahui hal-hal yang semestinya menjadi referensi dan informasi untuk dijadikan agenda penguatan.

Pada tekstil tradisional Indonesia misalnya, posisinya digeser oleh serbuan tekstil industry dari Cina yang motif dan bahannya serupa tekstil tradisional. Karenanya harga menjadi lebih murah dan khalayak kita membelinya dengan riang. Dari Bali hingga Flores Timur penenun dan perajin tekstil tradisional juga makin berkurang, kalaupun ada mereka sudah berumur. Anak-anak muda enggan menjadi penenun. Potret ini adalah bagian kecil dari tergerusnya artefak budaya di sekitar kita.

Kondisi inilah yang membuat tekstil desainer I Gusti Made Arsawan larut dalam serangkaian kajian dan riset ekonomi-sosial-budaya yang meliputi dunia tekstil tradisional Bali yang semenjak berabad lalu sohor karena motif dan kualitas craftmanshipnya. Selepas studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB jurusan Desain Tekstil, Arsawan telah memulai eksplorasinya dengan tenun tradisional, ini disebabkan dorongan yang diberikan pengajar dan pendidiknya sehingga dalam tugas akhir studinya memilih soal pengembangan tenun tradisional.

Studi dan Eksplorasi Hingga Kreasi Eksperimentasi

Bukan saja sangat beruntung, tetapi dengan penuh antusias Matamera Communications  terlibat semenjak proses awal mendampingi Arsawan dalam studi, melekatkan strategi, nama, hingga desain dan program komunikasi yang relevan bagi kelahiran kembali kain tradisional ini. Kesadaran terbesar adalah bagaimana menghadirkan nilai-nilai baru yang mampu bersanding dengan kebesaran nilai budaya tradisi yang telah melekat dalam helai-helai tenun tradisional Bali.

Tenun Patra2

Dalam perjalanannya mengeksplorasi kain tradisional, Arsawan memiliki keyakinan bahwa peluang mengembangkan pola dan teknis produksi kain tradisional akan memiliki dimensi yang luas, mengingat budaya tenun dalam tradisi masyarakat Indonesia demikian hebatnya.

Banyak hal yang telah menjadi studinya dalam tenun tradisional Nusantara membuktikan soal kekayaan dan nilai yang tinggi yangdicirikan dengan bahan atau material, teknis pewarnaan alam, keragaman dan kekayaan motif yang simbolik, pengerjaannya dan tentu saja pemakaiannya. Arsawan tertantang untuk melakukan eksperimentasi kreatif yang mampu menjadikan tenun tradisional memiliki nilai yang dinamis sekaligus mengakomodasi kekinian. Proses eksplorasi yang selalu disempurnakan dan diberi aksentuasi ini akhirnya pada awal tahun 2012 diproduksi dan diperkenalkan kepada publik.

 

Menghadirkan jiwa Tenun Patra

Pengguna, pecinta dan pengkoleksi kain tradisional ‘Endek’ dari Bali terperangah melihat helai-helai tenun serupa ‘endek’ tapi memiliki motif tradisional-kontemporer yang demikian kaya dan berukuran besar serta tanpa pola motif repetisi sebagaimana hadir dalam kain ‘endek’ tradisional yang biasa mereka lihat. Yang sedang mereka saksikan dan rasakan itu adalah Tenun Patra.

Tenun Patra – sebagai brand dan sebutan baru untuk jenis kain ini -diciptakan mengambil prinsip tenun tradisional ikat atau endek dengan mengembangkan motif atau pepatraan yang tidak lazim dalam produksi tenun ikat tradisional. Arsawan, sangat tertantang untuk mentransformasi ragam hias pepatraan yang lazimnya terdapat di dinding pura atau candi, di pintu kayu dan panel kayu, di kain prada dan kekayaan patra lainnya ke dalam kain tenun dengan modul yang lebih besar dari repetisi modul pada kain tenun tradisional biasanya. Motif atau pepatraan ini dirangkai dengan ikon-ikon alam yang merupakan simbolik untuk mendapat pemaknaan baru. Maka dari patra punggel, mesir, china, sari dan lainnya berpadu dengan ikon-ikon yang dikenal di bali memiliki makna tertentu seperti tupai, naga, dll menjadi tema motif Tenun Patra yang spesifik.

Tenun Patra5

Kehadiran Tenun Patra memang mengagetkan publik tekstil yang mencintai kain tradisional Bali. Dengan penamaan baru, kemasan dan informasi dalam kemasan adalah upaya memutakhirkan tekstil tradisional sekaligus praktek mengkonservasi khazanah budaya tradisional menjadi lebih aplikatif dan mengikuti jamannya. Arsawan menyebut Tenun Patra sebagai kain yang dinamis bukan saja dalam pemakaian yang memungkinkan dipergunakan dalam busana berbagai kalangan, namun dalam berbagai materi aplikatif yang menjadi elemen interior maupun produk.

Tenun Patra sebagai kain yang dinamis, keunggulannya mampu dikembangkan sebagai tenun kontemporer yang memiliki ciri ketidakterbatasan dalam motif dan warna.

Pengembangan ini memungkinkan penggunaan Tenun Patra sebagai kain koleksi yang eksklusif atau mentransformasi kebutuhan khusus bagi desainer dalam aplikasinya baik untuk fashion maupun produk. Dengan pengembangan teknis yang dilakukan Arsawan, semua tingkat kesulitan motif dapat ditransformasikan sebagai motif kain tenun.

Pembangunan komunitas untuk keberlanjutan

Ketika budaya menenun dalam masyarakat mulai ditinggalkan karena upah yang tidak sesuai lagi sebagai penenun, Arsawan melihat permasalahan mendasar ini menjadi bagian yang melekat dalam studi dan eksplorasinya dalam mengembangkan kain tenun. Dengan strategi yang tepat dalam menumbuhkan kembali gairah aktivitas menenun di komunitas, Arsawan mencoba mengurai kembali secara jernih rangkaian permasalahan dan menautkannya kembali dengan model yang diujicobakan. Komunitas penenun kemudian menjadi lebih bersemangat dan mulai melakukan transformasi pada generasi penenun yang lebih muda. Pola upah dan stimulus dengan formulasinya ini dapat mendorong produktivitas baru. Sinerginya sebagai desainer bersama komunitas penenun menjadi harapan bagi produktivitas yang berkelanjutan.

Motif dengan makna lebih universal

Sebagaimana kain tradisional dan batik memiliki motif dan nama yang spesifik sebagai relasi penciptaan symbol, dalam Tenun Patra diciptakan motif-motif baru yang menggunakan icon alam sebagai pesan universal. Pada Tenun Patra generasi pertama dilahirkan 9 motif yang masing-masing mempunyai nama tersendiri sehingga memudahkan dalam penyebutan atau pemilihan motif. Dalam motif inilah penguatan story telling dilekatkan bagi Tenun Patra menjadi semacam rangkaian khazanah tradisi tenun dan kain Nusantara yang lahir kembali.

Tenun Patra4

Bergulir dinamis

Kerja keras dan proses dengan passion dalam melahirkan Tenun Patra memberikan banyak manfaat dan inspirasi terutama bagi komunitas penenun, pecinta tenun tradisional dan desainer. Belum satu tahun diperkenalkan kepada publik, Tenun Patra telah bergulir menjadi model baru perlakuan bagi khazanah dan artefak budaya Nusantara yang penting. Beberapa kesempatan dan penghargaan telah diperoleh Tenun Patra, salah satunya adalah Ganesha Innovation Championship Award 2013 (GICA) yang merupakan ajang penganugerahan inovasi untuk alumni ITB yang berhasil melakukan pengembangan masyarakat (sosial, ekonomi, budaya) dengan inovasi yang dimilikinya dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Tenun Patra diberi anugerah ini karena mampu mengembangkan teknik tenun berlandaskan kekayaan budaya kriya asli Bali. Selanjutnya melibatkan masyarakat untuk melakukan produksi tenun dengan skema yang lebih fair sehingga menarik lebih banyak anak muda Bali menekuni bidang ini.

Tenun Patra6

Selain itu Tenun Patra menjadi model dalam pengembangan tenun tradisional di forum “An International Workshop on Tenun Ikat as Heritage for sustainable Development “ yang diselenggarakan oleh International Institute of Asian Studies (IIAS), Leiden.

Tenun Patra memang bukan untuk dijangkau oleh publik yang luas, dengan rangkaian produksi dan kompleksitas persiapan produksi sebagaimana ditemui dalam tenun tradisional pada umumnya mengharuskan Tenun Patra memelopori penghargaan terhadap kain tenun sebagai benda seni yang dikerjakan khusus oleh tangan terampil nan kreatif. Menghadirkan campur tangan desainer menginvensi kain tradisional melalui proses riset hingga eksekusi desain adalah tantangan besar yang membentang di pelosok Nusantara.

Comments

  1. Poppy says:

    wonderful endek.. Kerja sama yuuk dengan Angsa Dua, untuk tas tenun berkualitas premium :)