Kesuksesan Kopi Tuku, sebuah kedai kopi yang beberapa waktu lalu sempet heboh gara-gara didatengin Presiden Jokowi, tidak datang dalam waktu sehari. Sang founder Andanu Prasetyo mengaku ia bukanlah seorang penikmat kopi, tapi karena ia mendapatkan ilmu tentang membuat kopi yang enak. Merasa ingin berkontribusi terhadap petani kopi Indonesia dan konsumen, Andanu mendirikan Kopi Tuku di tahun 2015.

Kopi Tuku bukanlah bisnis pertama yang ia geluti. Di tahun 2005, Tyo – sapaan akrabnya – telah mencicipi dunia wirausaha dengan membuka distro yang digabung dengan cafe dan kedai es krim. Kemudian ia memutuskan untuk fokus ke bisnis dunia kuliner di tahun 2010 dengan membuka restoran bernama Toodz House.

Ia mengaku, di tahap awal perjalanan Kopi Tuku kedainya sepi pelanggan. Ia hanya dibantu oleh dua barista dan satu roaster. Saat itu, ia tidak memikirkan strategi bisnis apapun dan yang ia yakini hanyalah bahwa kedai kopinya memiliki potensi untuk berkembang dari para ‘tetangga’ kedainya di Cipete. Karena itulah, ia berusaha membuat kopi yang sesuai dengan selera dan daya beli orang-orang sekitar kedainya.

Dari situlah Tuku berkembang, promosi dari mulut ke mulut yang bermula dari ‘tetangga’ membuat popularitas Kopi Tuku meroket. Banyak yang memesan lewat jasa ojek online dan kesuksesan ini membuat booming kedai-kedai kopi lokal dengan target market serupa dengan Tuku.

Kini, Kopi Tuku sudah membuka gerai cabang di daerah Bintaro dan Pasar Santa. Tiap hari Tyo bisa menjual setidaknya 1000 gelas dengan omzet mencapai ratusan juta perbulannya. Meski sukses, Tyo tidak ingin membuka waralaba karena ia ingin menjaga standar bisnisnya.

Agar bisnisnya bisa terus bertahan, Tyo selalu memerhatikan kualitas produk dan hubungan baik antara konsumen dan kompetitornya.