Keterbatasan justru membuat seorang Angkie Yudistia tidak patah semangat. Meski memiliki keterbatasan pendengaran, ia sukses menjadi seorang wanita Indonesia yang menginspirasi. Selain menjadi seorang penulis buku, Angkie juga mendirikan sebuah social enterprise untuk penyandang disabilitas yang diberi Thisable Enterprise.

Berawal dari pengalaman pribadinya, Angkie kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kondisinya  yang tuna rungu meski ia telah mengantongi pendidikan hingga jenjang Strata 2. Angkie menyatakan banyak perusahaan yang belum percaya akan kemampuan orang berkebutuhan khusus untuk bekerja di lingkungan orang tanpa disabilitas. Karena itulah, Angkie memutuskan untuk mendirikan sebuah social enterprise untuk menjadi wadah bagi orang berkebutuhan khusus untuk mengembangkan keterampilan dan bakatnya lewat pelatihan-pelatihan yang disediakan. Mereka yang tergabung dalam Thisable Enterprise, bisa mendapatkan bantuan utnuk mendapatkan pekerjaan yang sama dengan orang tanpa disabilitas.

Meski bertujuan mulia, menjalankan Thisable Enterprise tidak semulus yang diharapkan. Pada tahun kelimanya, Thisable Enterprise yang telah diperjuangkan sejak tahun 2015 sempat membuatnya hampir menyerah. Masalah awareness dan image yang dimiliki oleh orang berkebutuhan khusus di masyarakat sulit membuatnya dipercaya. Namun, karena ia menyadari bahwa banyak sesama rekannya penyandang disabilitas terbantu berkat kehadiran Thisable Enterprise, Angkie berhasil bangkit dan menjadi pemberi semangat kepada rekan-rekannya.

Kini, sudah ada beberapa perusahaan yang mau menampung difabel sesuai kebutuhan mereka, mulai dari perusahaan jasa onlinse hingga perbankan. Selama beroperasi, Thisable Enterprise telah berkolaborasi bersama lebih dari 1.500 orang berkebutuhan khusus.