Lusia Efriani, seorang wanita asal Batam ini memiliki usaha sosial membuat boneka yang diberi nama Batik Girl untuk memberdayakan napi wanita dan ODHA. Batik Girl sendiri adalah boneka Barbie yang berbusana batik. Gerakan pemberdayaan ini bergerak di bawah naungan Yayasan Cinderella From Indonesia yang didirikan Lusia sejak tahun 2011.

Batik Girl bermula saat usaha tempurung batok kelapanya mengalami kemunduran. Sembari menunggu usahanya kembali normal, ia dan teman-temannya  mengikuti aktivitas lain yaitu menjadi pembina dalam komunitas pemberdayaan wanita khususnya wanita single parent. Di dalam komunitas tersebut, Lusia memberikan keterampilan bagi wanita single parent sebagai modal untuk mandiri.

i Lusia tengah fokus

Ternyata dari situ, wanita kelahiran Surabaya, 1 Agustus 1980 ini terpilih untuk menghadiri International Visitor Leadeship Program (IVLP) yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat, tepatnya tahun 2011. Setelah pulang dari program tersebut, Lusia membagikan ilmu dengan teman-teman komunitasnya. Seiring berjalannya waktu akhirnya Lusia-pun mendirikan Yayasan Cinderella From Indonesia. Tak disangka 2 tahun kemudian, Lusia mendapat tawaran menantang yaitu menjadi pembina bagi wanita narapidana.

Lewat misi  “Satu boneka satu teman”, di tahun 2014, Lusia menargetkan produksi 1.000 boneka tetapi ternyata mereka bisa memproduksi hingga 1.500 boneka dan itu semuanya habis terjual lewat pameran di dalam dan luar negeri. Lusia mengaku sampai saat ini Batik Girl sudah mengikuti banyak pameran di dalam maupun di luar negeri seperti di Amerika, Australia, dan Malaysia. Pameran di luar negeri pun mendapatkan antusias yang luar biasa. Contohnya ketika mengikuti pameran di Amerika, dalam sehari Batik Girl dapat terjual hingga 100 boneka, sedangkan di dalam negeri baru bisa didapatkan dalam waktu 5 hari untuk menjual 100 boneka.

 

Untuk sistem pembagian profit, per orang mendapatkan Rp10.000 dari per boneka. Kemudian sisanya dikembalikan menjadi biaya produksi dan untuk yayasan. Dana tersebut dialokasikan untuk 3 program yaitu pusat belajar gratis untuk ibu-ibu dari anak jalanan terutama yang single parent. Kedua, program pemberdayaan wanita ODHA dan bekas PSK. Ketiga, program untuk anak-anak jalanan.

Selain membuat boneka, Lusia juga aktif berbaur dengan para Napi dan ODHA untuk memotivasi mereka agar tidak patah semangat. Untuk lebih memperluas pemasaran produknya, saat ini Lusia sedang bekerjasama dengan Saung Mang Udjo dan berencana untuk memasarkan Batik Girl lewat Garuda Indonesia sebagai merchandise dan beberapa perusahaan untuk program CSR mereka.

 

Mulia sekali ya, apakah kamu punya contoh lain socialpreeur yang sukses? Ayo share di sini!