Disabilitas sering membuat penderitanya terpinggirkan. Berawal dari kecintaannya mempelajari bahasa dan keterlibatannya sebagai relawan di Nikaragua, Amerika Selatan, Dissa Ahdanissa mendirikan sebuah cafe yang memberdayakan para tuna rungu.

fing 1

Cafe yang diberi nama Fingertalk ini mempekerjakan karyawan yang tuna rungu. Uniknya, sebagai pengunjung kita juga wajib memesan dengan menggunakan bahasa isyarat. Dissa berharap ke depannya bisa menjangkau komunikasi tuna rungu lokal dan dapat mengembangkan Deaf Cafe Fingertalk di pusat kota Jakarta.

Sociopreneur yang dibuka pada Mei 2015 ini berlokasi di Pamulang dan segera membuka cabang di Cinere. Cabang ketiga di Cinere ini juga akan menawarkan jasa mencuci mobil. Tentu saja, dengan adanya konsep baru ini, ia ingin agar lebih banyak tuna rungu yang dapat dipekerjakan.

obama

Yang lebih membanggakan, usahanya untuk memberdayakan tuna rungu menuai pujian dari Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Dalam kesempatan Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) di Luang Prabang, Laos, pada Rabu, 7 September, Dissa diperkenalkan oleh Obama sebagai salah satu pemuda-pemudi asal Asia Tenggara yang membuat perubahan di komunitasnya dan di negaranya.

Dalam pidatonya, Obama sempat bercerita mengenai Leah-Katz Hernandez, salah satu resepsionis White House yang tuna rungu. Hernandez sempat berkunjung ke Deaf Cafe Fingertalk milik Dissa di Tangerang dan menyampaikan testimoninya kepada Presiden Obama.

Ke depannya, Dissa juga berencana untuk tidak hanya membuka lapangan kerja untuk kaum tuna rungu, melainkan juga berencana untuk merangkul kaum disabilitas lainnya.

 

Punya ide lain untuk bersociopreneur? Share ide kamu di kolom komentar!