Di Jakarta, banjir merupakan momok menakutkan sebagai bencana tahunan, terutama saat musim penghujan tiba. Segala aktivitas pun tergangggu karena banjir. Padahal saat dekade 70-80an, sebagian tanah di Jakarta masih aman dari banjir karena daerah resapan masih banyak ditemui. Daerah Muara Kapuk, Penjaringan, di Jakarta Utara misalnya, 30 tahun silam adalah wilayah yang bebas banjir. Sebagian besar adalah tanah kosong dan kebun. Perlahan muka tanah dari tahun ke tahun mulai digenangi air. Ketika banyak dibangun permukiman, tanah resapan mulai ditimbun. Daerah ini kini menjadi wilayah yang paling rendah di Jakarta.

Ketika musim banjir terjadi dari tahun ke tahun, penduduknya mulai menyesuaikan diri. Hunian mereka dibangun menjadi rumah panggung. Yang tidak kuat, rumah mereka ditinggalkan. Saat mulai terendam banjir, rumah tersebut ikut tenggelam menjadi semacam danau-danau dengan kedalaman dua sampai tiga meter. Akhirnya danau itu menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Kampung menjadi kumuh dan kotor.

Melihat kondisi itu sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas Kapuk mulai membersihkan genangan air dari sampah. Agar kebiasaan membuang sampah di danau itu berkurang, pada tahun 2007 muncul ide membudidayakan lele. Hal ini membuahkan hasil, setiap ada yang akan membuang sampah akan diberitahu kalau danau itu ada budidaya lele. Sebuah bak sampah kemudian ditempatkan di pinggir kolam.

Maka saat banjir tiba, airnya yang berlimpah dimanfaatkan untuk beternak lele dan program daur ulang sampah. Ketika panen tahun pertama tiba, keuntungan belum terlihat. Barulah pada tahun 2009, keuntungan mulai didapat. Komunitas Kapuk mulai menemukan formula yang pas untuk membudidayakan ikan lele. Meski pakan lele didapatkan dari Bogor dan Tangerang, komunitas ini kemudian berhasil membudidayakan pakan sendiri dengan sebuah mesin yang didapatkan dari keuntungan budidaya lele.

Kini, produksi ikan lele mereka saat panen mencapai satu ton per tiga bulan. Selain itu, lingkungan masyarakat pun menjadi bersih. Dari budidaya ini, mereka juga sudah ikut membangun jembatan dan jalan kecil di kampung. Komunitas Kapuk juga memiliki koperasi dan kelompok budidaya perikanan berbadan hukum.

Budidaya lele telah mengantar mereka membangun kampung jadi paguyuban. Bank sampah didirikan, begitu juga pendidikan anak di bawah lima tahun. Inovasi terus berlanjut, sekarang merambah ke komunitas kawasan. Mereka mulai memikirkan mangrove yang ada di pinggir pantai dengan mendirikan perkumpulan ‘Bale Mangrove’ untuk merekrut anak-anak muda agar peduli lingkungan di kawasan Kapuk Muara.

Jika di kota-kota Jakarta lainnya, jalanan dan pembangunan fisik banyak dibiayai pemerintah setempat, di Kapuk Muara sebagian besar adalah dari keringat penduduknya yang ikut bergabung di Komunitas Kapuk. Atas dedikasinya terhadap permasalahan sosial, pada tahun 2013 komunitas ini diganjar dengan penghargaan dari Arthur Guinness Fund dan British Council Indonesia.

Banjir di Muara Kapuk oleh Komunitas Kapuk dipandang sebagai sebuah berkah untuk menambah penghasilan dan upaya dalam melestarikan lingkungan menjadi lebih bersih, bukan lagi sebuah bencana.

 

Sumber:
National Geographic
British Council