Batik, kain yang asli berasal dari Indonesia ini memang tidak lekang di makan zaman. Batik resmi menyandang masuk ke dalam daftar Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Keindahan batik dengan segala rupa dan warnanya inilah yang menarik perhatian Dea Valencia Budiarto, yang telah sukses menjadi wirausahawan saat ia menginjak usia 22 tahun, lewat brand-nya Batik Kultur. Terinspirasi pada sejarah di tahun 1900-an di mana banyak orang Belanda yang membatik dan mengadaptasi coraknya dari beberapa dongeng Belanda, Dea-pun mendesain sendiri motif pada kain yang diadaptasi dari motif lawasan.

Dalam menjalankan bisnis batik, Dea telah melakukannya sejak usianya 16 tahun. Setahun menjalani bisnis, Dea menjual kain batik lawasan, namun selanjutnya dari kain, ia memutuskan untuk menjual produk jadi – seperti baju batik.

Pada awalnya, Batik Kultur hanya memproduksi 20 potong pakaian, kini produksinya mencapai 800 potong setiap bulan Dengan harga Rp 250.000 – 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp3,5 miliar per tahun atau Rp300 juta per bulan. Kini Batik Kultur bahkan telah diekspor ke beberapa negara, seperti dari Norwegia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, Singapura dan Hongkong. Hanya saja Dea belum menyanggupi permintaan ekspor dalam jumlah besar, mengingat kemampuan produksinya yang masih belum memenuhi permintaan pasar dalam negeri.

Baginya, kesuksesan bisnis tidaklah dinilai dari seberapa banyak produknya terjual, berapa banyak pelanggan yang dimiliki atau seberapa besar keuntungan yang didapat. Menurutnya, berapa banyak orang yang bisa ia berdayakan untuk bekerja di bisnisnyalah yang menjadi tolok ukur yang lebih penting. Ia merasa bangga, dari seorang karyawan saja, kini ia memiliki 85 karyawan dan 40 di antaranya adalah difabel.