Perjalanan menyebar “DO GOOD THINGS” kini mampir ke Semarang. Ada dua acara pada tanggal 17 April 2013 ini, yaitu kelas TDA Kampus Semarang dan malam harinya Akademi Berbagi Semarang. Pembicara pertama, Handoko Hendroyono, memulai diskusi. Peserta serius mendengarkan. Membahas Do Good Things pada era ini adalah termasuk memanfaatkan social media untuk kepentingan penyebaran informasi, ataupun tumbuh menjadi generasi Do It Yourself, bukan lagi Generasi Komplain. Secara realtime, diskusi pun mengalir ke dalam timeline @doinc_, baik yang ditulis oleh @doinc_ maupun yang diretweet oleh peserta diskusi.  Setelah ishoma diskusi kemudian dilanjutkan oleh pembicara kedua, yaitu Arief Budiman atau lebih dikenal dengan nama Ayip Bali.

Gabungan

Ayip, founder Kopi Kultur pun berbagi cerita tentang Kopi Kultur bagaimana ia sangat prihatin bahwa justru bukan kopi Indonesia yang mejeng di café. Padahal menurutnya Indonesia itu punya banyak potensi dan sangat kaya. Ayip juga prihatin terhadap kerajinan yang dibuat oleh pengrajin/produsen Indonesia, meski tidak semuanya, tapi kadang ada beberapa produk buatan kita yang dengan berat hati harus diakui berkualitas rendah. Ia punya cita-cita mengangkat produk lokal untuk mencapai prestasi global. Ia ingin semua pengrajin/produsen Indonesia, dimanapun, meningkatkan karya dan kualitasnya sehingga barang-barang yang dijual mempunyai nilai kualitas yang diakui secara Internasional.

Dalam kesempatan ini, Ayip juga memperkenalkan PARADESA sebuah gerakan yang lahir karena melihat problem produksi pangan yang buruk. Mata Rantai PARADESA adalah memetakan potensi yang ada dan mengutamakan penanganan berdasarkan potensi lahan, SDM ataupun pasar.

Ramai-ramai

Hari berganti malam, Semarang pun semakin temaram. Dua pembicara sudah untuk kembali berbagi ilmu dengan Akberians Semarang tentang Digipreneur. Diskusi dimulai dengan dongeng, ya, benar, story telling. Dengan berdongeng dan menambahkan story telling pada produk dan brand, akan memberikan keunikan tersendiri dan bisa dijadikan tahap untuk melakukan suatu perubahan. Melalui produk kita dapat menyampaikan pesan dengan menggunakan media apapun, namun jika kita melihat hari ini, social media-lah yang memegang peran. Bicara social media, konten memegang peranan penting didalamnya. Berapa banyak brand yang berhasil karena keunikan, konsistensi ataupun makna (inspirasi) yang dibagikan pada audience.

kompilasi

Sekarang pun eranya kolaborasi, bukan persaingan. Kolaborasi yang sering dilakukan untuk saling mendukung usaha nyaris memperlihatkan bahwa persaingan yang bergesekkan telah usang dan tidak ‘asyik’ lagi. Sama halnya dengan era pencitraan, kini komunitaslah yang menentukan. Lalu bagaimana caranya jadi brand yang dicintai komunitasnya? DO GOOD THINGS adalah hal yang selalu dicintai bukan?

ramai2

Comments

  1. Saya berharap dan selalu berjalan untuk berkolaborasi dengan teman2 kreatif Semarang.
    Sekali lagi hilangkan pameo “kreatif hanya milik designer, anak iklan, seniman, komikus” yang jluntrungnya entah kemana.
    KArena (sekali lagi) KREATIF MILIK SEMUA ORANG.
    Mari berkolaborasi untuk Indonesia ber JATIDIRI.