Meski berpenghasilan 100.000 dollar Amerika per tahun, Azalea Ayuningtyas lebih memilih untuk merintis usaha cendera mata dan aneka benda hasil mengolah anyaman lontar untuk membantu para ibu dan anak yang mengalami gizi buruk di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Lulusan lulusan program master di bidang kesehatan masyarakat dari Harvard University, Amerika, ini beranggapan bahwa tingginya angka malnutrisi di Flores disebabkan para orang tua tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan bergizi bagi kebutuhan sehari-hari anak dan mereka sendiri

Menurut data ada sekitar 45 persen anak-anak dan 50 persen ibu-ibu yang mengalami malnutrisi. Ayu yang sejak lama ingin membantu masyarakat tergerak untuk membantu mereka dengan menciptakan Du’Anyam bersama 6 orang temannya – sebuah perusahaan yang membeli anyaman dan cendera mata lontar dari ibu-ibu di NTT dan memasarkannya ke sejumlah resor, toko suvenir dan vila di Bali.

Anyaman lontar dipilih karena perempuan NTT terbiasa melakukan aktivitas sambil menganyam daun yang mudah ditemukan di Flores itu.

Lewat Du’Anyam yang berarti anyaman ibu ini, Ayu dan teman-temannya membantu  ibu-ibu dan wanita di 15 desa di Flores. Du’Anyam menghasilkan tas, sepatu, dan beragam suvenir serta produk kerajinan berbahan daun lontar lain dengan tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional.

Ia sadar, usahanya ini masih tergolong kecil. Masih banyak yang harus ditingkatkan dan tantangan tantangan yang harus dihadapi agar bisnis ini menjadi  makin matang.

Saat ini, Du’Anyam membiayai aktivitasnya dari pendanaan jangka pendek dari hasil memenangkan berbagai kompetisi kewirausahaan sosial, seperti MIT Global Ideas Challenge 2014, UnLtd Indonesia Incubation profram 2014-2016, Global Social Venture Competition 2015, serta dana hibah dari Tanoto Foundation.

 

Keinginan untuk menolong sesama bisa melahirkan inovasi yang mengangkat kualitas hidup masyarakat. Apakah kamu punya ide untuk sociopreneur lainnya?