Di usianya yang belum 30 tahun Egar Putra Bahtera telah sukses mengekspor sepatu kulit lokal premium ke 4 benua di seluruh dunia. Kisahnya dimulai saat masih duduk di bangku sekolah. Egar memiliki hobi mengoleksi sepatu, tapi ia mengaku hanya mampu membeli sepatu murah karena keterbatasan dana. Dalam hatinya ia bertekad untuk bisa memproduksi sepatunya sendiri suatu saat nanti.

Duduk di bangku kuliah, Egar mulai mewujudkan mimpinya. Saat duduk di tingkat 2 Jurusan Teknik Pertambangan, Egar meluncurkan merek sepatu setelah melakukan riset selama 9 bulan mencari perajin yang memiliki visi dan misi serupa dengannya. Sepatu buatannya ia beri nama, Chevalier. Dalam bahasa Prancis, Chevalier memiliki arti ksatria. Ia berharap sepatunya tangguh dan bijaksana sehingga bisa memberikan dampak baik untuk lingkungannya.

Chevalier memang dipasarkan untuk kalangan menengah ke atas. Harganya tidak bisa dibilang murah, tapi semuanya sebanding dengan kualitas dan model yang diberikan. Egar mematok harga sepatunya mulai dari Rp900 ribu hingga Rp3 juta per pasangnya. Karena bahan dan model yang berkualitas, sepatu kreasinya sudah berhasil diekspor ke mancanegara. Chevalier kini hadir di 4 benua, Asia, Eropa, Amerika, dan Australia.

Menurutnya Chevalier menawarkan eksklusivitas yang akan dirasakan pemiliknya sehingga Chevalier bisa menarik minat banyak orang. Hal itu tergambar saat ia menggelar pameran, dari seluruh sepatu yang ia bawa justru sepatu-sepatu dengan harga termahal yang ludes terjual.

Sukses dengan sepatu, Egar tidak berdiam diri, ia-pun mencoba ekspansi ke bidang lain setelah menjalankan bisnis sepatu selama 2 tahun, sehingga kini ia memiliki 4 merek, yaitu Chevalier yang menyasar pasar premium, Canes untuk pasar medium, Sosia untuk pasar jam tangan, dan sebuah brand apparel yang diberi nama Monoka. Untuk ekspansi ini Egar punya tips, yaitu jangan terburu-buru. Pastikan bisnis pertama sudah mapan dahulu sebelum mengambil porsi yang lain.

Bukan hanya mengincar untung, Egar ingin terjun dalam bidang sosial. Sesuai filosofi Chevalier yang ingin berguna untuk masyarakat, Egar menjalin kerjasama sosial dengan Dian Sastro Wardoyo. Egar-pun merilis edisi khusus Chevalier X Dian Sastro. Keuntungan penjualannya disumbangkan seluruhnya ke program Beasiswa Dian milik Dian Sastro sendiri yang berkecimpung dalam pembiayaan wanita-wanita Indonesia yang kesulitan dana untuk berkuliah. Dari hasil kerja sama selama 9 bulan tersebut terkumpullah dana sekitar Rp30 juta. Sebelum berkolaborasi dengan Dian Sastro, Egar juga pernah membagikan 100 pasang sepatu Chevalier gratis ke daerah Halmahera, Maluku Utara. Karena itulah, dibanding disebut wirausahawan, Egar lebih suka disebut Sociopreneur.

Bagi Egar ada 3 kunci sukses, yaitu kerja keras yang membuat sukses, smart mempermudah jalan sukses, dan sedekah mempercepat meraih sukses. Menurutnya jadikan bisnis sebagai ajang mendekatkan diri pada Tuhan, keluarga dan sesama. Jangan sampai bisnis yang kita bangun justru menjauhkan segalanya.