Apakah kantor anda sudah asyik sebagai tempat bekerja dan berkarya? Apakah kantor memungkinkan anda untuk jadi lebih terbuka, ramah dan berdaya? Apakah anda merasa terinspirasi setiap kali datang ke kantor atau justru sebaliknya? Saya sudah berkunjung ke ratusan kantor dan pernah bekerja diberbagai tempat kerja mulai dari kantor rumahan, pabrik hingga gedung pencakar langit. Sebagian seru, keren & menyenangkan – namun sebagian besar cenderung biasa saja, membosankan dan kaku. Saya percaya tempat kerja punya peranan penting bagi individu untuk tidak sekedar bekerja, namun juga berkarya dan berkontribusi. Saya perhatikan sebagian besar kantor – terutama di gedung-gedung bertingkat didominasi oleh ruangan bersekat sempit dengan penyejuk udara super dingin.

Pikiran sok tahu membuat saya merasa punya semua jawaban untuk tempat kerja yang keren dan memberdayakan. Karena merasa sudah melihat banyak tempat kerja, saya kira saya punya resep handal untuk kantor yang paling OK. Belakangan saya sadar bahwa masih begitu banyak hal yang tidak saya ketahui – terutama soal kantor. Beberapa waktu lalu saya diajak oleh sahabat-sahabat @sheggario @mrtampi dan @dondihananto untuk membuka tempat  #coworking. Coworking adalah tempat kerja bareng yang bisa disewa untuk waktu tertentu – mulai dari beberapa jam hingga tahunan. Orang-orang dengan berbagai profesi bisa bekerja menempati ruangan keren tanpa terpisah oleh sekat sambil sekaligus berkenalan, berinteraksi dan berkolaborasi. Berbeda dengan konsep kantor konvensional yang konservatif, formal dan dingin, coworking justru seru, relax dan hangat. Bukan cuma sekedar urusan tata letak atau desain, coworking merekonstruksi total cara pandang mengenai tempat kerja.

There is nothing new under the sun, but the eyes only see what the mind want to see. Punya kesempatan untuk melihat banyak hal adalah berkah. Namun berkah yang lebih besar adalah punya mata hati untuk melihat apapun sebagai berkah. Menyadari rasa sok tahu yang seringkali mendominasi pikiran, saya beruntung punya sahabat-sahabat yang gemar berbagi cerita, ide dan inisiatif tentang banyak hal seru.

Saat berpikir tahu banyak, itu indikasi kita masih harus tahu lebih banyak lagi (baca: belajar). Saat berpikir tahu segalanya, itu petunjuk jelas kepandiran. The most difficult task is not to learn, but to unlearn what we think we know. Forget what you think you know and keep on looking, learning & creating! Nothing in the world is completely done. Tamdiu discendum est quamdiu vivas – Seneca.

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas.

Photo: instagram #CityOfAngelsdari@AnggaSasongko