Kemiskinan dan kebodohan adalah sebuah lingkaran setan yang sulit diurai. Kemiskinan menyebabkan kebodohan, begitu pula sebaliknya, kebodohan menyebabkan kemiskinan. Untuk melawannya, Heni Sri Sundani, seorang anak petani dan mantan TKI yang pernah ditipu oleh agen yang memekerjakannya di Hong Kong memutuskan untuk membantu anak-anak petani agar mendapatkan pendidikan yang layak. Karena kepeduliannya inilah Hani masuk ke dalam jajaran 30 Under 30 Asia 2016 dari Forbes untuk kategori Social Entrepreneur.

Saat bekerja di Hong Kong dan gajinya dicatut hingga separuhnya, Heni memutuskan untuk tinggal dan melanjutkan pendidikannya di Saint Mary University. Perjuangannya membuahkan hasil karena dia berhasil lulus dengan nilai Cumlaude. Kembali ke kampung halamannya di Ciamis, ia melihat tidak ada banyak perubahan. Karena itu, bersama jaringan kawan-kawan sesama TKI dan menggunakan dana pribadinya, ia memutuskan untuk mendirikan Gerakan Anak Petani Cerdas di bawah payun komunitas Agroedu Jampang.

Selain memusatkan pendidikan pada anak-anak petani, gerakan ini berusaha untuk membantu meningkatkan penghasilan petani melalui berbagai cara. Di antaranya adalah memberikan penyulihan pertanian, membantu pemasaran hasil pertanian, dan melibatkan petani dalam program wisata pendidikan pertanian Jampang.

Lewat gerakan ini, ada 5 kampung yang telah dibina, yaitu Babakan Pulo, Cigelap, Sasak, Pulo dan Jampang. Setiap minggunya mereka menerima pendampingan belajar gratis, character building, kelas motivasi, kelas bisnis, dan kelas pertanian. Kini, gerakan ini telah memiliki jumlah murid hampir mencapai 500 orang dan 300 di antaranya merupakan penerima beasiswa

Peduli pada sesama bisa jadi perhatian dunia. Apa idemu unutk bersociopreneur? Ayo share di sini!