Pertumbuhan jumlah netter (pengguna internet) di Indonesia tergolong menakjubkan. Menurut survei dari MarkPlus Insight Netizen Survei pada tahun 2012 menyebutkan bahwa jumlah pengguna internet di indonesia sudah mencapai 61 juta orang.  Dari jumlah itu, persentase pengguna internet dibanding jumlah penduduk Indonesia adalah 23,5%.

Akibat pertumbuhan internet tersebut, memiliki alamat email bukan lagi sesuatu yang istimewa. Namun memiliki website sendiri mungkin bagi kebanyakan orang masih merupakan sesuatu yang diidam-idamkan. Inilah yang ditangkap oleh Ferry Herlambang Zanzad ketika menemukan peluang di dunia desain web.

Ceritanya dimulai tahun 1998-an ketika Ferry tertarik untuk membuat situs e-commerce, dimana pengguna internet masih sangat sulit, begitu juga web designer. Ferry pun memutuskan untuk belajar sendiri. “Jadilah web pertama saya berisi jualan kerajinan Indonesia dengan sistem pembayaran online,” ujar Ferry.

Seiring berjalannya waktu, Ferry pun mempelajari beberapa bahasa pemrograman yang diperlukan sebagai modal untuk menjadi web designer, seperti HTML, php, CSS, dan JQuery. Semuanya ia pelajari secara otodidak. “Pada dasarnya anda bisa belajar sendiri, tapi harus memiliki enerji dan daya tahan tinggi. Saya sarankan untuk belajar formal. Kuliah IT atau kursus untuk praktisnya,” kata Ferry yang sudah menulis 25-an buku-buku IT tentang web dan desain.

Sampai akhirnya Ferry menemukan sebuah website Themeforest yang saat ini merupakan pangsa pasar terbesar di dunia untuk penjualan template, baik platform WordPress, Joomla, sampai psd. Situs ini merupakan bagian dari Envato yang memiliki “divisi” lain seperti Graphirriver yang fokus ke penjualan grafis, Photodune, Audiohive,  dan lain-lain.

“Bisa langsung dilihat di webnya. Banyak sekali anak-anak Indonesia yang ada di sana, dan banyak juga yang telah menduduki ranking tinggi di sana,” kata Ferry kepada DoInc.

fzanzad

Untuk mengerjakan satu template, Ferry mengaku rata-rata menghabiskan 500 jam kerja yang meliputi pembuatan theme, bikin demo sampai dokumentasinya. Tergantung tingkat kerumitan dan fitur yang ia sediakan. Bahkan untuk satu template saja, Ferry menghabiskan pengeluaran antara $200 hingga $500.

Template pertama Ferry di Themeforest dipublikasikan awal Januari 2013 dengan nama “Khabar” yang didesain untuk website magazine dan dibandrol dengan harga $45. Hingga kini template tersebut terjual lebih dari 100 pesanan.

Menyusul kemudian empat template lainnya. “Dari 5 theme (2 saya delete) telah terjual 500-an. Saya terhitung sebagai orang baru di Themeforest,” kata pria yang mengaku masih bertani mengurusi sawah di Surabaya.

Pembeli template Ferry tentu saja dari beberapa negara seperti Italia, Ukrania, Brazil, Perancis dan dari Indonesia sendiri. Mereka bertransaksi langsung dengan Themeforest melalui Paypal, Moneybooker, dan sebagainya. Setiap penjualan ada persentase antara author theme dengan Themforest. Menurut Ferry, semakin besar penjualan, semakin kecil potongan.

Saat DoInc menanyakan mengapa tidak berkantor saja dan lebih memilih Freelance, Ferry menjawab, “Freelance. Pasti! Lebih berarti, setidaknya bagi diri sendiri. Semua energi yang kita keluarkan, 100% untuk diri kita sendiri.”

Sebagai bagian dari dunia industri kreatif, Ferry mengatakan bahwa dunia kreatif tak dibatasi geografis, “Ini dunia tanpa tepi, tak mengijinkan orang untuk berhenti menggali. Tentu saja peluangnyapun tak memiliki tepi, sangat banyak. Satu ide kecil bisa menjadi besar. Di Indonesia mungkin tak menyediakan banyak ruang, tinggal klik internet dan cari ujung-ujung internet yang menyediakan “arena” buat kita.”

Sebagai catatan, banyak anak-anak Indonesia di Envato dan Themeforest baik perorangan maupun sebagai studio dan mereka memiliki posisi yang bagus pada ranking. Menurut Ferry, web designer itu bisa dipelajari sendiri, tapi harus memiliki energi dan daya tahan tinggi. Ia menyarankan untuk belajar formal. Kuliah IT atau kursus untuk praktisnya.

Hingga saat ini Ferry belum punya rencana untuk mengerjakan theme dari platform lain seperti Joomla atau Drupal. Ia hanya ingin fokus untuk developing WordPress saja.  Ia juga sedang mengerjakan studio yang akan dijadikan tempat untuk mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan desain web. “Masih belum fit, terutama untuk support ke buyer,” katanya.

Ferry juga sedikit membocorkan rahasianya agar tetap passion di dunia kreatif, “Belajar terus menerus dan tetap merasa “tak bisa apa-apa”. Dunia yang sangat dinamis; hari ini belajar satu teori, besok pagi muncul seribu yang baru,” ujarnya menutup obrolan sore di Surabaya yang sejuk.

 

Source image: Despreneur

Comments

  1. clash of clans gemmes gratuites says:

    I do not even know how I ended up here, but I thought this post was good.

    I do not know who you are but certainly you are going to
    a famous blogger if you aren’t already 😉 Cheers!

  2. Rowena says:

    Good day! Would you mind if I share your blog with my facebook group?

    There’s a lot of folks that I think would really appreciate your content.
    Please let me know. Thank you