Karena dihinggapi rasa penasaran tentang keberadaan Lutung Jawa dan situasi terkini masyarakat Muaragembong, Doinc lalu mencoba menjelajah ke daerah ini hari Selasa kemarin. Ditemani beberapa teman dari komunitas fotografi, kami menentukan rute perjalanan mulai dari Cawang UKI lalu menuju Landmark Summarecon di kota Bekasi dan dilanjutkan ke Muaragembong.

Mungkin karena hari libur, perjalanan dari Cawang menuju Bekasi hanya berdurasi 35 menit. Meski awalnya cuaca agak mendung, namun setelah mobil yang kami tumpangi melaju sepanjang tol Cikampek, perlahan matahari mulai terlihat dari arah Timur. Ini membuat kami makin bersemangat menuju Muaragembong. Sepanjang jalan, kami terus berkoordinasi dengan teman-teman Bekasi Green Attack (BGA) yang akan memandu perjalanan hingga Muaragembong.

Tepat pukul 7 pagi, kami tiba di kota Bekasi, tepatnya di Landmark Summarecon yang menjadi kebanggaan baru warga Bekasi. Melalui pesan singkat,  Ferlan dari BGA memberikan nama-nama relawan yang akan mendampingi kami. Sambil menunggu kehadiran mereka, teman-teman komunitas foto menyempatkan diri mengabadikan Landmark Summarecon dan kegiatan warga yang sedang berolahraga pagi.

Selang 15 menit, Toro, Irfan dan Arief datang dan memperkenalkan diri sebagai relawan BGA. Dengan kendaraan motor, mereka kemudian beriringan mengawal kami menuju Muaragembong yang berjarak 55 km dan bakal ditempuh dalam kurun waktu 2 jam. “Hati-hati di jalan, Bang!” kata Ferlan melalu pesan singkat. Biasanya, segala hal tentang BGA dan kegiatannya memang Ferlan yang mengkoordinir.

Di tengah perjalanan, Ferlan kembali mengabarkan bahwa Sungai Citarum meluap hebat. “Bang Samba keputus arus sungai Citarum. Dia minta maaf nggak bisa nemenin,” ucapnya. Samba adalah akronim dari Samsul Bahri, seorang relawan dari Lembaga Kajian Advokasi dan Informasi Lingkungan (eLKAIL). Beliau diagendakan akan menemani kami mengitari hutan-hutan bakau yang ada di Muaragembong sekaligus melihat “penampakan” Lutung Jawa. Kabar tentang kondisi beliau tersebut sempat membuat kami frustasi.

“Mobil cuma bisa sampai sini, Bang. Ke sana nggak ada lagi jalan,” ujar Toro ketika kami menginjakkan kaki di kantor Kepala Desa Pantai Mekar sekitar jam 9.30. Desa Pantai Mekar adalah salah satu desa di Muaragembong selain 5 desa lainnya, Desa Jayasakti, Desa Pantai Sederhana,  Desa Pantai Bahagia, Desa Pantai Bakti, dan Desa Pantai Harapan Jaya.

Kami terus mengabarkan kondisi terkini lewat Ferlan. Berkat kegigihan teman-teman fotografer, akhirnya mobil kami diperbolehkan sampai kecamatan Muaragembong, tepat di pinggiran Muara Citarum. Kabar keberadaan Samba pun membuat kami lega karena akhirnya dia berhasil melewati hadangan sungai Citarum.

“Ini Samba, bisa dikatakan dia adalah kuncennya wilayah ini. Beliau juga bagian dari Bekasi Green Attack.” ujar salah satu relawan diiringi tawa rombongan lainnya. Keseharian Samba sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri Pantai Bahagia 04 sangat terganggu dengan kondisi banjir yang menimpa. “Nanti kita coba ke sana melihat situasi kelas dimana saya mengajar,” ucapnya dengan nada lirih.

Kekompakan teman-teman BGA dalam menyemangati warga lokal patut diacungi jempol. Sebagai gerakan yang mewadahi beberapa komunitas seperti Para Gembel, Ayo Peduli, Bekasi Urban City, dan Lembaga Kajian Advokasi dan Informasi Lingkungan, BGA menggerakan relawannya secara terkoordinasi di bawah bendera #SaveMugo.

Rombongan DoInc lalu berangkat mengarungi sungai Citarum sekitar jam 10.30. Dengan perahu kayu dan mesin sederhana, kami membaur bersama warga setempat memulai cerita Muaragembong.

Bagaimana lanjutan perjalanan kami? Apa pula pendapat warga sekitar, teman-teman relawan, dan komunitas tentang Muaragembong dan Lutung Jawa? Benarkah hewan ini pantangan tersendiri bagi warga sekitar? Bagaimana penampakan Lutung Jawa dan apa saja makanan favoritnya? Tunggu ceritanya besok yaa. :)

Foto-foto Desa Pantai Mekar dan Kecamatan Muaragembong: